Sunday, April 16, 2017

Gradasi Hitam dan Biru Tua

Gradasi hitam dan biru tua
Cahaya sabit menggantung manja
Sepi mendominasi suasana
Si Merah berjalan tergesa-gesa

Sekilo dua kilo tak terhitung
Melalui jalan tak berujung
Merajut asa yang mengaung
Di tengah-tengah jalan belitung

Dialah peluh
Yang membuat seragam kebanggaan jadi basah
Ditemani deru napas yang terengah-engah
Tapi tak membuat diri ini jengah

Hampir seribu hari telah dia lewati
Dengan siklus seperti ini
Telah banyak pengalaman berarti
Yang telah dipatri di dalam hati

Gradasi hitam dan biru tua
Kini siklus baru kan segera tiba
Jangan berhenti temani dia
Dimana pun Merah berada


Bandung, 26 Februari 2017.

Friday, February 24, 2017

Kuburan mimpi



Gelap malam belum sepenuhnya pekat. Hanya terpaut 2 jam sejak adzan magrib berkumandang dari speaker masjid.  Sayup-sayup terdengar suara rendah televisi dari ruang tengah. Pintu depan rumah terbuka lebar, membiarkan udara dingin masuk menemani seseorang yang tengah mengerjakan sesuatu di ruang depan. Ditengah suasana klasik itulah, si gadis merah diam-diam sedang mengubur impiannya dalam-dalam.
Sejak dulu—bahkan sejak 10 tahun yang lalu, memakai jas putih, mengalungkan stetoskop di leher, lantas tersenyum seraya berkata, “bagian mana yang sakit?” telah menjadi profesi idamannya. Dia telah berhasil melewati banyak badai yang menerpa tanpa ampun. Dirinya telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Seiring berubahnya angka penunjuk tahun, impian itu semakin jelas terlihat ujungnya. Tentu, semakin dekat pula si gadis merah dengan impian besarnya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, dia akan memiliki profesi idamannya itu.
Tapi, bukan hidup namanya jika semua berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Disana, yang luput dari pandangan tapi tak luput dari pemikiran, adalah kehendak Allah SWT. Pada awalnya Ibu dan Ayah memberikan restu dan dukungan penuh terhadap impian besar si gadis merah.  Namun, berbagai masalah bermunculan bagai buih di lautan yang tidak perrnah habis. Ada satu masalah besar yang menjadi batu loncatan bagi kedua orang tuanya untuk berpikir, terutama Ibu. Kedua orangtuanya mulai memikirkan nasib impian besar putrinya. Apabila masalah ini terus berlanjut, si gadis merah terancam tidak dapat lanjut memperjuangkan cita-cita. Namun, lagi-lagi kedua orang tuanya memaksa agar gadis merah tidak perlu turut memikirkan masalah ini. Biar jadi urusan orang tua, katanya.
Suatu hari, ketika waktu terus berputar dengan kejamnya, satu persatu masalah seolah meminta untuk dipikirkan. Si gadis merah tiba-tiba terpikir masalahnya di rumah dan masalah cita-cita besarnya. Saat ini, kedewasaan dan pikiran jernihlah yang dibutuhkan, sebab ini menyangkut nasib sisa umurnya kedepan. Dia mencoba berpikir realistis. Selama ini dia telah egois dengan memperjuangkan cita-cita besarnya itu. Egois? Benar, sebab dibalik perjuangannya itu ada sosok kedua orang tuanya yang telah berkorban banyak. Jika si gadis merah tetap melanjutkan perjuangannya meraih mimpi, itu berarti kedua orangtuanya akan berkorban semakin banyak. Maka dari itu, dia mencari pilihan lain, pilihan yang lebih realistis. Kemudian, terlintas sebuah pilihan yang begitu realistis, masuk akal, dan pastinya akan membuat kedua orang tuanya bahagia. Bersama senyuman getirnya, si gadis merah mencoba meneguhkan hati dan mulai menata ulang impian lamanya dari awal. Bukan hanya percaya, tapi juga belajar menerima kenyataan dengan sepenuh hati.
Hati manusia memang keras dan dingin. Terlebih apabila diri kita telah dibutakan oleh indahnya kehidupan dunia, semua hal yang tidak sesuai dengan kehendak terasa begitu sulit untuk diterima. Namun, hati terkeras dan terdingin pun dapat berubah secepat kilat apabila telah Dia dikehendaki. Pada akhir tulisan ini, gadis merah belajar satu hal. Sepahit apapun sebuah kenyataan akan terasa lebih indah apabila kita percaya pada skenario terbaik dari Allah SWT.