Gelap malam belum sepenuhnya pekat. Hanya terpaut 2 jam sejak adzan magrib
berkumandang dari speaker masjid. Sayup-sayup
terdengar suara rendah televisi dari ruang tengah. Pintu depan rumah terbuka
lebar, membiarkan udara dingin masuk menemani seseorang yang tengah mengerjakan
sesuatu di ruang depan. Ditengah suasana klasik itulah, si gadis merah diam-diam
sedang mengubur impiannya dalam-dalam.
Sejak dulu—bahkan sejak 10 tahun yang lalu, memakai jas putih,
mengalungkan stetoskop di leher, lantas tersenyum seraya berkata, “bagian mana
yang sakit?” telah menjadi profesi idamannya. Dia telah berhasil melewati
banyak badai yang menerpa tanpa ampun. Dirinya telah tumbuh menjadi gadis
dewasa yang dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Seiring berubahnya angka
penunjuk tahun, impian itu semakin jelas terlihat ujungnya. Tentu, semakin
dekat pula si gadis merah dengan impian besarnya. Hanya tinggal beberapa
langkah lagi, dia akan memiliki profesi idamannya itu.
Tapi, bukan hidup namanya jika semua berjalan sesuai dengan apa yang
kita inginkan. Disana, yang luput dari pandangan tapi tak luput dari pemikiran,
adalah kehendak Allah SWT. Pada awalnya Ibu dan Ayah memberikan restu dan
dukungan penuh terhadap impian besar si gadis merah. Namun, berbagai masalah bermunculan bagai buih
di lautan yang tidak perrnah habis. Ada satu masalah besar yang menjadi batu
loncatan bagi kedua orang tuanya untuk berpikir, terutama Ibu. Kedua
orangtuanya mulai memikirkan nasib impian besar putrinya. Apabila masalah ini
terus berlanjut, si gadis merah terancam tidak dapat lanjut memperjuangkan
cita-cita. Namun, lagi-lagi kedua orang tuanya memaksa agar gadis merah tidak
perlu turut memikirkan masalah ini. Biar jadi urusan orang tua, katanya.
Suatu hari, ketika waktu terus berputar dengan kejamnya, satu persatu
masalah seolah meminta untuk dipikirkan. Si gadis merah tiba-tiba terpikir
masalahnya di rumah dan masalah cita-cita besarnya. Saat ini, kedewasaan dan
pikiran jernihlah yang dibutuhkan, sebab ini menyangkut nasib sisa umurnya
kedepan. Dia mencoba berpikir realistis. Selama ini dia telah egois dengan
memperjuangkan cita-cita besarnya itu. Egois? Benar, sebab dibalik
perjuangannya itu ada sosok kedua orang tuanya yang telah berkorban banyak.
Jika si gadis merah tetap melanjutkan perjuangannya meraih mimpi, itu berarti kedua
orangtuanya akan berkorban semakin banyak. Maka dari itu, dia mencari pilihan
lain, pilihan yang lebih realistis. Kemudian, terlintas sebuah pilihan yang
begitu realistis, masuk akal, dan pastinya akan membuat kedua orang tuanya
bahagia. Bersama senyuman getirnya, si gadis merah mencoba meneguhkan hati dan
mulai menata ulang impian lamanya dari awal. Bukan hanya percaya, tapi juga belajar menerima kenyataan dengan sepenuh hati.
Hati manusia memang keras dan dingin. Terlebih apabila diri kita telah
dibutakan oleh indahnya kehidupan dunia, semua hal yang tidak sesuai dengan
kehendak terasa begitu sulit untuk diterima. Namun, hati terkeras dan terdingin
pun dapat berubah secepat kilat apabila telah Dia dikehendaki. Pada akhir
tulisan ini, gadis merah belajar satu hal. Sepahit apapun sebuah kenyataan akan
terasa lebih indah apabila kita percaya pada skenario terbaik dari Allah SWT.
No comments:
Post a Comment