Friday, November 6, 2015

Goresan Kuas Ratzel



Ciiiiiiit.

250 detik.

Motor sialan. Kok pake acara berhenti sih, masih kuning juga lampunya. Dia gatau apa ya lampu merah disini itu lamanya kaya nunggu Indonesia lepas dari jajahan Belanda! Ini matahari ga bersahabat banget lagi. Tangan kananku sibuk memakaikan kaca mata hitam sedangkan tangan kiriku berusaha menurunkan suhu AC mobil. Siapapun yang bilang kalo Bandung kota yang sejuk, dia pasti ngomong itu 20 tahun yang lalu. Percaya deh sekarang disini udah kaya di sauna. Padahal aku di dalam mobil dan ini masih jam 10 pagi.

200 detik.

Merasa bosan, aku merogoh tempat khusus menyimpan handphone di dashboard. Ternyata kosong. Handphoneku dimana ya? Kayanya terakhir aku charge di kamar deh. Begini ceritanya mah pasti ketinggalan di kamar. Sekarang aku menyesal karena tadi terburu-buru berangkat. Aku memutar otak, hingga akhirnya aku menyalakan radio. Berharap stasiun radio kesukaanku bisa menghibur kali ini.

150 detik.

“Selamat pagi kawula muda.” Suara khas penyiar radio menyapaku

“Pagi.” jawabku malas. Padahal aku tahu ini hanyalah interaksi satu arah.

“Gue punya permainan nih buat kalian. Permainannya gampang banget. Nanti gue jelasin tentang permainnya setelah kalian ikutin instruksi gue. Oke?”

Daripada bosen mending aku ikut aja.

“Yuk mulai! Sekarang kawula muda harus mikirin sebuah angka dari 0-100.”

Meskipun malas tapi tetap saja aku memikirkan sebuah angka.

“Sekarang coba kawula muda perhatikan sekitar kalian.”

Lagi-lagi aku mengikuti instruksinya.

100 detik

Aku melihat menembus kaca mobil kananku. Di dalam angkutan kota ada seorang anak perempuan menggunakan kemeja putih dan rok merah tua dengan logo sekolah dasar di dada kirinya. Aku sudah tidak memperhatikan ocehan penyiar radio tadi. Di bahunya tersandang tas punggung berwarna pink dan di dadanya tersilang tali botol minuman berwarna senada. Kelihatannya masih kelas 4 atau 5 Sekolah Dasar. Sungguh menggemaskan melihat pipinya yang sedang mengunyah sesuatu dan tangannya yang sibuk membuat origami. Wanita di sebelahnya sibuk mengikat rambutnya yang ikal dan mengembang. Mungkin itu ibunya. Mereka terlihat akrab sekali meskipun saat anaknya terus berceloteh wanita itu hanya menyahut sesekali dengan anggukan. Namun rasa sayang itu terpancar jelas dari matanya.

50 detik.

Atmosfer yang menyengat tidak membuatku mengalihkan perhatian dari ibu dan anak itu. Ku perhatikan setiap gerakan dan interaksi mereka. Aku jadi teringat masa kecilku. Alangkah rindunya aku dengan semua itu. Pada sesusianya, aku pasti sebahagia anak itu, bahkan mungkin lebih. Mengingat bunda begitu menyayangiku saat itu. Aku jadi teringat masa kecilku yang menyenangkan.
Tiiiiiit. Tiiiiiit. Tiiiiit.

Suara klakson dari berbagai arah membuyarkan lamunanku. Ternyata lampu sudah kembali hijau dan mobilku menghalangi kendaraan lain. Sementara waktu yang tersisa tinggal 30 detik lagi. Langsung kupacu mobil ini dengan kecepatan maksimal tanpa meminta maaf.

§ § §

“Pak Ujang cepet bukain pintu gerbangnya!” aku berteriak kencang karena sudah hampir 5 menit tidak ada yang membukakan pintu gerbang. Tak lama Ayah datang dan membukanya. Memangnya Pa Ujang kemana sih sampai-sampai “tuan besar” sendiri yang mengerjakan pekerjaanya? Aku memarkirkan mobil di garasi sementara Ayah menutup kembali pintu gerbang.

“Yah, emang Pak Ujang kemana? Kok Ayah yang bukain pintu gerbang?” Saat turun dari mobil aku bertanya pada Ayah yang berjalan melewatiku.

“Pak Ujang pulang ke Majalengka. Katanya anaknya masuk rumah sakit.” Ayah menjawab singkat. Aku hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
       
Hari sudah hampir gelap saat aku mengambil alat bermain softball di bagasi. Sudah cukup latihannya untuk hari ini. Oleh-oleh latihan hari ini adalah paha kananku terkena lemparan bola kencang dan aku merasa sangat kesakitan. Aku tergabung dalam klub softball Kota Bandung, Rusa Hitam. Setiap hari rabu dan sabtu aku rutin berlatih karena sebentar lagi akan ada pertandingan antar klub softball se-Jawa Barat, Refugees.
Begitu membuka pintu depan, aku langsung disambut teriakan anak kecil yang sangat mengganggu.

“K..kak Nai..ra! K..kak Nai..ra!” celoteh Ratzel sambil berlari menuju kepadaku dan memeluk pahaku begitu erat.

“Iiih lepasin! Minggir sana gue mau mandi.” ucapku sambil mencoba melepaskan pelukannya yang sangat erat dan menahan rasa sakit di pahaku.

“K..kak Nai..ra ma..na al..ppu..kkat kke..su..kka..an Rat..zel?” tanyanya dengan mata berbinar penuh harap.

“Duh lupa gue. Males nginget-nginget hal ga penting gini. Apalagi kalo itu berhubungan sama lo. Dasar aneh.” ucapku ketus dengan tangan yang masih mencoba melepaskan pelukan Ratzel. Binar di matanya perlahan berubah menjadi duka.

“Naira! Kamu ini apa-apaan? Bersikap baiklah pada adikmu. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk bertindak seperti itu.” tegur Ayah sambil melotot.

“Ayah emang ga pernah ngajarin, tapi bener, kan? Ratzel itu aneh. Dia itu ga normal, Yah. Anak pembawa sial. Kenyataanya begitu dan Naira ga bohong soal itu.” ucapku berapi-api.

Perlahan pelukan erat Ratzel mengendur dan lama kelamaan terlepas. Ratzel berdiri lemah dengan wajah yang menunduk. Aku benar-benar sudah tidak peduli dengan apa pun tentangnya. Hatiku sudah terlalu keras untuk dilunakkan. Bahkan batu pun masih bisa mencekung jika terus-menerus ditimpa air. Namun, hatiku bahkan sudah lebih keras dari batu.

Ayah terus mengoceh dan menggurui sementara Ratzel masih tetap dalam posisinya. Aku berjalan cepat menuju kamarku di lantai atas. Begini rasanya jika tidak punya Ibu, tidak ada yang membelamu jika dirimu salah, tidak ada yang langsung memelukmu untuk menenangkan perasaanmu yang kalut, bahkan tidak ada ucapan “semua akan baik-baik saja” yang biasa diucapkan oleh seorang Ibu jika anaknya menangis terus-menerus.

Kakiku telah melewati anak tangga terakhir ketika aku menoleh ke bawah dan melihat ayah sedang memeluk Ratzel sambil menepuk punggungnya dengan lembut. Jika sudah begini, aku semakin merindukan Bunda.

§ § §
Cklek.

Setelah mandi, aku melakukan ritual malamku, bersila di atas kasur dan memandangi foto bunda yang ku gantung tepat di atas tempat tidur. Sekitar 15 menit aku memandang foto Bunda dan mulai bermain “Jika Bunda masih ada” dalam pikiranku. Semakin sering aku memandang foto bunda, semakin membuncah pula kerinduanku.

Aku mengambil buku jurnal di dalam kotak merah. Kemudian aku mulai menulis:

24 Oktober 2015
19.37 WIB

Bunda, ini sudah hampir 5 tahun semenjak kejadian itu. Apakah Bunda merindukanku? Aku sangat rindu pada Bunda. Aku menyesal telah banyak mengecewakan Bunda selama ini. Bunda tahu tidak? Semakin hari aku semakin benci pada Ratzel karena dia telah menyebabkan Bunda meninggal. Melihat anak perempuan tadi pagi mungkin seumuran dengan Ratzel. Namun aku tak ingin membandingkan bocah lucu dan menggemaskan tadi dengan Ratzel.

Bunda, sekarang semua temanku telah mengetahui status Ratzel sebagai adikku. Aku merasa malu sekali karena memiliki adik yang aneh. Apakah aku salah Bun? Pasti Bunda akan mengatakan bahwa ini adalah hal yang wajar, aku yakin itu Bun. Sudah 2 hari aku tidak mengecek sosial media. Rasanya seperti ingin menghilang dari dunia karena semua orang mulai mempertanyakan tentang Ratzel.

Bunda, ayah lebih memperhatikan Ratzel dibanding aku sekarang. Kalau dulu selalu ada Bunda yang memelukku jika dimarahi Ayah. Selalu ada Bunda yang menceritakan dongeng sebelum tidur. Selalu ada Bunda yang mengikat rambutku dengan berbagai macam gaya. Semuanya selalu Bunda.

Bunda, kapan Bunda akan ada dimimpi ku? Apakah malam ini? Atau besok? Mampirlah dimimpiku Bunda, karena aku ingin sekali melihat wajahmu secara langsung meskipun itu didalam mimpi. Motivasi hidupku adalah engkau, Bunda. Bunda adalah idola dalam hidupku, sekaligus orang yang paling aku sayang. Selamanya.

Setelah mengembalikan buku harian ke tempatnya semula, aku mengambil handhone berlogo apel yang setengah digigit diatas meja belajar. Jariku tergerak untuk mengecek LINE messanger. Ada banyak notifikasi yang masuk, sebagian besar menanyakan tentang kondisi adikku yang aneh. Yah, aku tidak menyalahkan mereka yang berkata bahwa Ratzel itu aneh, karena memang dia itu aneh. Hanya saja aku belum siap untuk menjawab dan menerima cercaan yang akan datang.

Awalnya semua temanku memang tidak mengetahui bahwa aku memiliki seorang adik pengidap Down Syndrome. Ya benar, Ratzel Chaviera Iskandar adalah anak pengidap Down Syndrome. Down Syndrome adalah kelainan genetik bawaan sejak lahir yang mengakibatkan penderitanya mengalami pertumbuhan yang sangat lambat. Hingga detik ini, belum ditemukan metode pengobatan paling efektif.

Contohnya saja Ratzel. Diusianya yang sudah menginjak 10 tahun beberapa bulan yang lalu, bicaranya masih belum lancar dan perkembangan otak kirinya sangatlah buruk. Hanya saja Bunda dan Ayah dulu telah sepakat untuk mendidik Ratzel sekuat tenaga agar dia bisa imbang dengan kemampuan anak normal seusianya. Namun, semenjak Bunda meninggal, Ratzel mulai mengalihkan perhatiannya pada menggambar. Sehingga kemampuan dia berbicara masih sangat tidak lancar karena sudah jarang dilatih secara intens.

Tetapi semua usahaku untuk menutupi fakta tersebut gagal karena Ratzel. 2 hari yang lalu, Ratzel bersama Ayah menjemputku saat jam pulang sekolah. Ketika itu, aku sedang demonstrasi berbagai macam syle bola basket dihadapan seantero siswa-siswi SMAN 3 Bandung. Kemudian Ratzel berlari menuju tengah lapangan dan meloncat-loncat tidak jelas sambil menyebut “Kak Naira”. Jelas saja semua orang tertawa mengejek dan malah bertepuk tangan. Ratzel semakin menjadi sebelum Ayah berlari untuk menangkapnya dan membawanya ke mobil. Mau tidak mau aku mengikuti mereka seolah-olah tidak tahu apa-apa. Tebal muka sekali diriku saat itu.

Dengan kesal aku mematikan handphone dan menyimpannya kembali diatas meja belajar. Begitu lampu dimatikan, aku berbaring dan memandangi hiasan bintang yang menyala di langit-langit kamarku. Hiasan itu dipasang sehari setelah Bunda mengetahui bahwa dia mengandung Ratzel. Semua hal yang ada disekitarku memang selalu berhubungan dengan Bunda. Itu yang menjadi alasan mengapa aku selalu merindukan Bunda. Harapan sebelum kau jatuh ke alam mimpi adalah semoga aku bisa bertemu Bunda di dalam mimpi kali ini. Aamiin.

§ § §

Hari masih gelap ketika aku bangun pagi ini. Aku bersiap untuk melakukan rutinitas hari mingguku, senam. Dengan sigap aku menyiapkan pakaian olahraga. Tak lupa sepatu olahraga dan MP3 beserta earphone untuk menemaniku berlari santai menuju lapangan senam di depan kompleks. Setelah sholat subuh, aku berganti pakaian dan memakai sepatu. Rambut panjangku dibuat sanggul agar tidak panas nantinya.

Biasanya aku senam bersama Bi Asri. Bi Asri adalah pembantu dirumahku yang sudah bekerja semenjak 5 tahun yang lalu. Umurnya masih muda, sekitar 27 tahunan. Sikapnya yang polos dan baik membuat Ayah mempekerjakannya pada usia 22 tahun. Selain baik, Bi Asri pintar memasak dan tentunya mampu mengurus Ratzel.

Setelah 30 menit, aku turun kebawah hendak menuju kamar Bi Asri yang terletak di halaman belakang. Tetapi baru saja aku menuruni setengah jumlah anak tangga, sayup-sayup aku mendengar suara orang tertawa dari arah ruang makan. Tumben udah rame, biasanya juga masih pada tidur kalo subuh gini mah. Kakiku terus melangkah hingga ruang makan.

“K..kwuaak Nawwoooi..wwwra!” sapa Ratzel penuh semangat. Mulutnya penuh dengan makanan. Ratzel sedang mencorat-coret kertas diatas meja sedangkan Bi Asri membawa semangkuk sereal ditangannya.

“Ngomong yang bener.” balasku ketus.

Ratzel mengunyah dengan cepat dan menelan makanannya dengan paksa sehingga dia tersedak. Buru-buru Bi Asri mengambilkan air putih dan meyodorkannya ke mulut Ratzel. Aku melipat kedua tanganku didada dan mencoba menyalakan MP3. Sudahkah aku memberi tahu bahwa Ratzel belum bisa makan dan minum sendiri?

“K..kak Nai..ra! Li..hat i..ni.” katanya semangat setelah meminum air putih dari Bi Asri. Kedua tangan mungilnya menyodorkan kertas corat-coret tadi kehadapanku.

“Ogah.” ucapku kesal. Ratzel mengernyitkan wajahnya sambil menggeleng. Tanda dia tidak mengerti dengan kata yang baru saja aku ucapkan.

“Bi Asri, mau senam gak?” tanyaku langsung pada intinya.

“Emm..Mau sih neng, tapi Bibi harus ngejagain neng Ratzel dulu sampe Bapak bangun.” jawabnya ragu.

Tuh kan, lagi-lagi semuanya karena Ratzel.

“Lo ngapain sih pake bangun subuh segala? Ganggu hidup orang aja. Udah sana tidur lagi. Balik lo ke kamar.” perintahku otoriter.

Meski agak lama merespon, tapi ucapanku tadi sukses membuat bibir mungil Ratzel mengkerut dan maju beberapa centimeter. Dia memaju mundurkan bibirnya tanda kesal. Sedetik kemudian raut wajahnya kembali ceria. Dia memandangiku dan Bi Asri. Terus bolak-balik seperti itu.

“Apaan sih? Gue bilang cepet balik ke kamar.” Aku mengulang perintah dengan lebih keras.

“Si..ap K..kak Nai..ra!” ucapnya semangat sambil bangkit dari kursi meja makan. Kertas corat-coret beserta alat gambarnya dia tinggalkan di atas meja makan.

“Eh Eh, neng Ratzel ini sarapannya belum habis neng!” panggil Bi Asri mencoba menahan Ratzel supaya menghabiskan serealnya terlebih dahulu.

Ratzel hanya membalikkan badan dan menggeleng sambil nyengir. Kemudian terdengar suara pintu ditutup dengan keras, pertanda Ratzel sudah masuk kedalam kamar. Aku membalikkan badan menuju Bi Asri.

“Bi, Let’s Go!” ajakku tak kalah semangat dengan Ratzel. Emang cuma dia yang bisa semangat di rumah ini?

--

“Rachel Xhanaira Iskandar!”

Ketika akan membuka pintu gerbang, aku dikagetkan dengan suara orang yang memanggilku. Jarang sekali ada orang yang memanggil namaku dengan lengkap. Aku menolehkan kepala dengan cepat. Siapa yang memanggilku? Mengapa tidak ada orang? Sambil mengangkat bahu, aku berbalik untuk membuka pintu gerbang.
Pluk.

Duh siapa sih yang ngelempar biji rambutan? Seolah mendapat sinyal, dengan cepat aku menengokkan kepalaku ke belakang, ke arah pohon rambutan lebat yang ada diseberang rumahku. Kemudian aku menemukan pelaku yang melempar biji rambutan ke kepalaku. Dia adalah....Dimas. Yaa kalau tidak salah mengenali, karena sudah hampir 6 tahun aku tidak bertemu dengannya.

Dimas melompat turun dan menghampiriku sambil berlari. Dia terlihat tampan dan terurus. Tubuhnya sedikit gempal dengan otot-otot yang menonjol. Kentara sekali bahwa dia sering nge-gym. Meskipun berubah 180o tapi ada satu hal yang membuatku mengenalinya dengan cepat, yaitu sifatnya yang sangat “Dimas”.

“Hei Chel! Apa kabar lo?” tanyanya basa-basi. Dia tampak memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Hanya Dimas, yang memanggil diriku Chel. Kuchel. Hahaha

“Cape gue, abis senam di depan kompleks.” jawabku sambil membuka pintu gerbang. “Yuk masuk!” perintahku setelah berhasil membuka pintu gerbang.

Sambil berjalan masuk, Dimas masih tetap mengoceh.

“Sumpah lo sekarang mainnya sama Ibu-Ibu komplek Chel?” tanyanya sambil tertawa.

Aku hanya mendengus geli. Kami terus berjalan menuju taman air mancur yang terletak di halaman depan rumahku. Duduk bersila diatas rumput menjadi pilihan kami kali ini.

“Ya ampun! Ditinggal 6 taun aja lo udah berubah jalur gitu ya Chel. Ckck. Malu gue.” lanjutnya mulai serius.

“Apaan sih lo Dim? Emangnya tadi pas kesini lo ga liat apa yang senam tuh bukan cuma Ibu-Ibu doang, tapi banyak yang seumuran gue juga tau. 6 taun lo pergi makin so tau aja ya lo Dim. Hahaha.” jelasku panjang lebar.

“Eh tapi beneran banyak yang seumuran lo? Cantik-cantik dong? Suka gue suka. Hahaha.” balas Dimas.

“Yakin lo suka sama yang cantik? Bukannya sama yang ganteng? Hahaha.” Lalu kami berdua tertawa lepas.

“Lo sekarang kelas 3 SMA kan? Mau kemana lo abis lulus?” tanyanya setelah tawa kami mereda.

“Gue gatau Dim. Ga pernah mikirin. Kanyanya gue mau jadi atlet softball atau mungkin kuliah.” jawabku. Dimas terlihat tidak puas mendengar jawabanku.

“Lo harus tentuin dari sekarang lo mau kemana. Lo masih suka dapet juara 1 kan? Kalo gitu mah lo tinggal tunjuk aja mau kemana.” ucap Dimas yang hanya kubalas dengan tersenyum tipis.

Kemudian lama-kelamaan yang terdengar hanyalah suara air mancur yang membosankan.

“Dim, kok lo tiba-tiba balik ke Bandung? Bukannya lo lagi sibuk-sibuknya kuliah ya?” tanyaku memecah kesunyian.

“Tuan putri lagi butuh kasih sayang. Masa Superman diem aja di UI.” jawabnya asal sambil membangga-banggakan diri seolah dia memang seorang Superman.

“Eh dimana-mana pasangannya Tuan putri itu ya pangeran kodok. Haha.” candaku.

“Yah, 6 taun ditinggal Superman, ini Tuan putri makin jayus aja. Haha.” katanya santai sambil mengacak rambutku.

“Sialan lo Dim.” Aku memukul lengannya agak kencang.

“Buset dah, tenaga lo udah kaya kuli bangunan Chel.” Kata Dimas dengan raut wajah sedikit kaget.

“Makanya jangan macem-macem lo sama kuli bangunan.” balasku ketus.

Jangan heran kalau aku dan Dimas bisa langsung akrab kembali setelah 6 tahun tidak bertemu. Kami selalu berhubungan lewat Skype atau LINE messenger. Orang tuaku dan orang tua Dimas bersahabat sejak SMA. Dulu Dimas adalah tetanggaku yang rumahnya sekarang menjadi kebun rambutan. Aku sudah menganggap Dimas sebagai seorang kakak. Saat umurku 11 tahun, Dimas dan keluarganya pindah ke Jakarta karena Om Adi, Ayahnya, terpilih sebagai anggota DPR. Umur Dimas seumur denganku tetapi ketika SMP, dia mengikuti program kelas akselerasi. Sekarang Dia sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

“Lo lagi banyak pikiran ya? Cerita dong. Udah lama neng ga cerita sama abang. Haha.” Pernyataannya membuat aku muak.

Aku hanya menggeleng pelan. Aku memandangi kedua kakiku yang saling bermain ditanah.

“Gimana kabar Ratzel, Chel?” tanyanya langsung pada sasaran.

Kemudian aku menceritakan cerita dari awal Bunda meninggal hingga sekarang. Sedetail dan serinci mungkin, tanpa ada yang terlewat satu pun. Selama bercerita, Dimas tidak pernah menyela sekalipun. Setelah berhenti berbicara, aku merasa seakan beban yang selama ini menghimpit diriku diangkat seketika. Aku memperhatikan ikan koi peliharaan Ayah yang sedang memangap-mangapkan mulutnya di permukaan. Aku merasa lega sekali. Lama setelah aku selesai berbicara, Dimas baru membuka suara.

“Jadi, apa lo sayang sama Ratzel?” tanya Dimas.

“Hm?” aku bergumam. Tidak fokus dengan apa yang ditanyakan Dimas. Aku menengok melihat wajahnya.

“Rachel Xhanaira Iskandar, apa lo sayang sama adik lo, Ratzel Chaviera Iskandar?” ulangnya serius. Matanya menatap lekat tepat ke bola mataku.

“Apaan sih kok lo nanya gitu?” emosiku sedikit terpancing dengan pertanyaannya yang sensitif buatku.

“Kok lo marah sih? Gue kan cuma nanya hal simpel yang bahkan bisa lo jawab sambil tidur.” jelasnya.

“Gue ga suka lo nanya hal itu.” ucapku sambil membuang muka.

“Lho kenapa? Bukannya lo sayang sama Ratzel? Dia itu adik yang lo tunggu-tunggu kelahirannya, kan? Terus kenapa lo jadi marah pas gue tanya ini. Atau lo emang ga pernah sayang sama dia? Kasian dia Chel. Kematian nyokap lo itu bukan semata-mata karena Ratzel, tapi emang udah takdir Allah Chel. Pikiran lo itu lagi dibutain tentang kenyataan ini. Gue tau dia emang lain dari yang lain, dan dari yang gue inget dulu, lo ga pernah bermasalah dengan kondisi Ratzel yang Down Syndrome. Ada apa sama lo yang sekarang Chel? Mana Rachel yang selama ini gue kenal?” Penjelasan Dimas hanya membuat amarahku semakin memuncak.

“Dim lo tau ga sih? Tadi gue seneng banget pas ketemu lo lagi. Gue kira ini emang udah saatnya gue punya orang yang bakal ngelindungin gue lagi karena gue tau kalo Ayah udah sepenuhnya milik Ratzel. Gue cerita panjang lebar gini ke lo itu biar lo dukung gue, bilang ke gue kalo selama ini gue itu bener dan lo berada di pihak gue. Tapi apa sekarang? Gue nyesel pernah ketemu lagi sama lo, Dim.” ucapku panjang lebar. Aku bangkit berdiri dan membersihkan bagian belakang celanaku. Tanganku mengepal keras. Aku berbalik menghadap Dimas.

“Kenapa sih semua orang lebih memihak Ratzel daripada gue? Gue disini juga tersakiti. Jangan mentang-mentang karena dia aneh, dia dapet perlakuan spesial dari semua orang.  Gue cape Dim. Gue cape.” Suaraku memelan saat mengatakan ini. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Sebelum air mata ini tumpah, aku berjalan meninggalkan Dimas menuju pintu depan.

Baru beberapa langkah aku berjalan, suara Dimas membuatku berhenti sesaat.

“Gue kecewa sama lo Chel. Lo adalah orang yang ga punya hati nurani. Coba deh lo bayangin kalo lo ada di posisi Ratzel. Gue cuma minta itu dari lo, dan gue titip salam buat Ratzel. Semoga dia makin kuat ngadepin kakanya yang sekeras batu. Gue duluan.” balasnya tak kalah menyakitkan. Kemudian air mataku menetes satu persatu. Terdengar suara pintu gerbang yang dibuka dan ditutup. Aku berlari menuju kamar dan mengunci diri di dalam. Rasanya aku ingin mati saja.

§ § §

Perutku meraung minta diisi. Aku baru ingat kalau sejak subuh perutku belum diisi apapun. Jam sudah menunjukan pukul 03.00 sore saat aku bangun tidur. Seharian ini aku menghabiskan waktuku dengan menangis dan men-drible bola basket ke tembok kamar. Mencoba menyalurkan perasaan yang campur aduk lewat bermain basket. Mungkin aku ketiduran saking lelahnya. Tubuhku terasa lengket oleh keringat. Kakiku melangkah menuju kamar mandi, berniat membersihkan diri.

Setelah berganti pakaian, aku berjalan menuju ruang makan. Mencari apa saja yang bisa dimakan. Akhirnya aku menemukan lasagna di dalam kulkas dan memanaskannya di microwave. Setelah 5 menit, aku mengambil sendok kemudian membawa lasagna tersebut keruang tengah. Sambil memakan lasagna, aku menyalakan TV mencoba mengusir rasa sepi.

Selesai makan, aku mengambil jus jeruk dari kulkas dan kembali menonton TV. Merasa bosan dengan tayangan infotaiment, aku mengganti-ganti channel secara acak. Jariku berhenti memencet remote ketika di layar TV menampilkan acara berita sore. Headline nya adalah: seorang remaja penderita Down Syndrome yang sukses menjadi seorang fashion illustrator. Tiba-tiba saja perkataan Dimas tadi pagi kembali terngiang dipikiranku.

“...Lo adalah orang yang ga punya hati nurani. Coba deh lo bayangin kalo lo ada di posisi Ratzel...”

Arrrgh aku semakin kesal jika mengingat Dimas. Ku perhatikan layar TV yang terus membanggakan remaja Down Syndrome tadi. Jika dibandingkan dengan Ratzel, penampilan fisiknya begitu.....aneh. Bentuk kepalanya yang kecil, sela hidung yang datar, mulut kecil dengan lidah yang sedikit menjulur keluar, dan matanya yang kecil. Mungkin ini karena dia mengidap Down Syndrome.

Tetapi walaupun Ratzel memiliki bentuk kepala yang kecil dan hidungnya yang sedikit datar, secara keseluruhan dia terlihat lucu dan sekilas tidak terlihat bahwa dia seorang anak yang mengidap kelainan Down Syndrome. Jika Ratzel dan remaja tadi memiliki kelainan yang sama, mengapa keduanya nampak berbeda? Aku jadi semakin penasaran dengan Down Syndrome.
       
§ § §

Sepulang sekolah sore ini kembali ke rutinitas jika aku membuka pintu depan rumah, keadaan dalam rumah sepi. Mata bulat Ratzel sudah menanti kehadiranku.

"Apaan lagi sih? Minggir gue cape." ucapku ketus.

Tanpa bicara, Ratzel menunjuk kamarnya sambil menarik tangan kananku untuk mengikuti langkahnya.

"Eh lepasin tangan gue. Lo ngerti ga sih? Gue cape Ratzel, gue cape!" ucapku sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Ratzel di tangan kananku.

Semakin lama aku melawan, dia semakin keras menarik tanganku. Aku bahkan tidak menyangka bahwa dia memiliki tenaga sekuat ini.

"Minggiiiiir!" teriakku sambil menyentakkan tangan nya dengan keras. Tiba-tiba aku merasa kosong seketika.

Ratzel. Tubuhnya melayang menabrak kuda-kudaan yang terbuat dari kayu jati dengan keras hingga terdengar bunyi gedebuk kencang. Dulu Bunda membeli kuda-kudaan itu saat dia mengandung Ratzel. Aku yang meminta Bunda membeli mainan itu supaya nanti bisa dimainkan bersama adik yang sedang kusambut kelahirannya dengan suka cita.

Cairan merah segar mengalir dilantai marmer ruang tamu rumahku. Ratzel menutup matanya sempurna. Otakku sedang terserang brain freeze saat melihat pemandangan mengerikan ini. Segera saja aku berlari menuju pos satpam dengan tergesa-gesa.

"PakmUjang! Ratzel pak, Ratzel!" ucapku masih linglung.

"Non Ratzel kenapa Neng?" tanya Pak Ujang keheranan.
"Tadi bapak seperti mendengar bunyi keras dari dal..."

"Itu Ratzel, Pak. Dia........meninggal." potongku cepat.

Setelah itu pandanganku mengabur dan kemudian dunia disekitarku berubah menjadi gelap.

§ § §

Cahaya terang menyilaukan mataku. Perlahan tapi pasti, aku membiasakan pandangan dengan cahaya ini. Dinding disekitarku berwarna sama, putih. Tirai jendela disebelah kanan tubuhku disingkapkan sehingga cahaya matahari masuk sempurna ke dalam ruangan. Aku melihat wanita yang mengenakan mukena berwarna putih duduk membelakangi diriku. Tangannya memutar tasbih coklat sambil berbisik. Mungkin sedang berdzikir.

Aku berdeham pelan. Wanita itu menerima sinyalku. Dia berbalik cepat. Matanya bengkak. Kentara sekali dia habis menangis.

"Neng Naira udah sadar? Alhamdulillah." katanya sambil tersenyum lega. Ternyata Bi Asri.

"Naira mau minum, Bi." pintaku lemah.

Dengan sigap, Bi Asri mengambil gelas yang tersedia diatas nakas. Dia menyodorkan gelas itu padaku. Aku menerimanya sambil mendudukan tubuhku. Kuteguk habis air dalam gelas hingga tak bersisa. Gelas kosongnya ku kembalikan pada Bi Asri.

Tak sengaja aku memandang jam di dinding. Jarumnya menunjukan pukul 09.00 pagi. Tiba-tiba aku menutup mata sambil memijat pelipisku.

"Pusing, Neng? Bibi panggilin suster ya." tanyanya khawatir.

Aku menggeleng tidak setuju.

"Naira mau...Ah enggak enggak. Mmm Ratzel...gimana, Bi?" tanyaku ragu.

Aku menutup sebagian wajahku dengan kedua telapak tangan. Tak sanggup mendengar jawabannya. Seakan jawaban Bi Asri begitu mengerikan buatku.

"Non Rat.....kring-kring" ucapan Bi Asri terpotong oleh deringan handphone jadulnya. Dia menyipitkan mata dan menjauhkan tangannya untuk melihat siapa yang menelepon.

"Sebentar ya Neng," katanya sambil mengangkat telepon dan berjalan menuju pojok ruangan.

Memangnya sepenting apa telepon itu dibandingkan pertanyaanku? Dasar.

"Iya Pak iya nanti saya belikan...Kebetulan di seberang Rumah Sakit ada toko bunga...Ini neng Naira udah siuman, Pak." samar-samar aku mendengar ucapan Bi Asri. Kalau dari informasi yang aku dengar, orang yang menelepon adalah Ayahku.

Tapi bunga untuk apa? Mungkinkah...pemakaman Ratzel?

Bi Asri kembali berjalan menuju tempatku. Jantungku semakin berdebar bagaikan seorang teroris yang menanti detik-detik eksekusi mati dirinya. Pikiranku semakin liar, kembali terbayang mata Ratzel yang menutup dan darah yang menggenang di lantai. Aku menggeleng keras, mencoba menjauhkan bayangan-bayangan buruk tadi yang sialnya tidak mau lenyap dari pikiranku.

"Tadi nanya apa neng? Maaf nya neng bibi teh muda-muda gini udah gampang lupa." katanya sambil nyengir santai.

Semakin kesal aku dengan Bi Asri. Apa dia tidak menganggap kematian Ratzel sebagai sebuah kesedihan? Memangnya ini lucu? Lihat saja akan aku laporkan pada Ayah supaya Bi Asri dipecat. Eh tapi memangnya Ayah akan mendengarkan omonganku?

“Bi Asri! Aku kesel deh. Yang tadi nelfon itu Ayah, kan? Ratzel udah mau dimakamin, Bi? Dia bakal dimakamin disebelah makam Bunda? Aku mau ikut ngeliat, Bi. Aku yang nyebabin dia meninggal.” Aku menyerocos tanpa henti sambil mencoba melepaskan selang infus.

Bi Asri memperlihatkan raut wajah kaget dan panik.

“Eh eh Neng Naira mau ngapain? Siapa yang meninggal Neng? Neng Ratzel ada di kamar sebelah lagi ngegambar. Dia malah udah sadar dari tadi malem. Neng Naira juga dicariin terus sama Neng Ratzel. Dia pengen ngegambar bunga tulip katanya, makanya Bibi disuruh Bapak beli bunga ke depan.” jelas Bi Asri. Ternyata Ratzel tidak meninggal. Aku jadi menyesal telah mengkhawatirkan kondisi Ratzel berlebihan. Aku mendengus sambil merapikan poniku. Merasa gengsi.

“Ya udah Bibi sana beli bunga. Aku baik-baik aja ko. Terus tolong panggilin suster, aku mau mandi dan pulang.” pintaku pada Bi Asri.

“Neng Naira yakin ga mau ketemu dulu sama Neng Ratzel?” kata Bi Asri sambil menyeringai.

“Ga mauuuuuuuuu!!!” teriakku sambil menutup kepala dengan bantal rumah sakit. Bi Asri terkikik sambil berjalan keluar kamar. Naira naira...memalukan saja.

§ § §

Tepat 1 minggu setelah kejadian “Ratzel meninggal”. Bi Asri ternyata menceritakan kepada Ratzel bahwa aku sangat panik saat menanyakan kondisinya. Tentu saja Ratzel kegirangan dan merasa bahwa aku perhatian padanya. Menyebalkan.

Sekarang aku sedang kelaparan sekali. Seharian ini aku berlatih softball dengan keras, mengingat pertandingan softball se-Jawa Barat akan dilaksanakan 3 minggu lagi. Akibatnya aku lupa untuk makan siang dan cacing di dalam perutku sudah meminta jatahnya.

Aku menelepon restoran cepat saji untuk memesan makanan. Menurutku hal ini cukup simple dan cepat. 30 menit berselang, pengantar makanan datang dan aku memilih menghabiskan makan di ruang tengah.

Pranggggggg.

Saat akan bangkit berdiri, aku memecahkan gelas yang berada dipangkuanku. Segera saja aku memanggil Bi Asri.

“Bi Asri! Bi Asri!” teriakku.

Aku baru menyadari satu hal. Rumah ini terasa sangat sepi. Biasanya setiap saat ada saja suara Ratzel yang begitu mengganggu. Tetapi kali ini, tidak. Orang-orang pada kemana ya? Jangan-jangan aku ditinggal sendirian di rumah. Aku membereskan pecahan gelas dengan sangat hati-hati.

Setelah membuang pecahannya ke tempat sampah, aku berjalan mengelilingi rumah besar ini. Sudah lama rasanya tidak menjelajahi tempat penuh kenangan ini. Dulu saat aku berumur 10 tahun, Ratzel berumur 3 tahun, dan Bunda masih hidup, kami bertiga sering bermain petak umpet. Bunda dan Ratzel adalah satu tim, karena Ratzel belum bisa berjalan saat itu. Lemari di bawah tangga adalah tempat andalanku untuk bersembunyi. Lemari itu terletak di dekat kamar Ratzel. Aku berjalan menuju lemari bawah tangga, hanya sekedar ingin tahu bagaimana kondisinya sekarang.

Pintu kamar Ratzel sedikit terbuka. Dengan rasa penasaranku yang tinggi, aku melongokkan kepala kedalam kamarnya. Ternyata Ratzel sedang tidur dikasur bersama....Bi Asri! Padahal tadi aku memanggilnya dengan kencang, kok ga kebangun sih? Dasar Bi Asri.

Dengan ragu aku membuka pintu sehingga tubuhku dapat masuk ke dalam kamar. Sudah hampir 7 tahun aku tidak pernah menginjakkan kaki diruangan serba biru tosca ini. Ketika mengedarkan pandangan di dalam ruangan ini, aku dikagetkan dengan banyaknya kertas dan kanvas berwarna-warni dalam ruangan ini. Bukan hanya itu, tapi objek gambarannya adalah.....aku. Rachel Xhanaira Iskandar.

§ § §

Aku masih terkejut dengan lukisan-lukisan di dalam kamar Ratzel. Saat ini sudah pukul 7 malam dan aku baru pulang dari restoran fast food untuk makan malam. Otakku terus bertanya-tanya dari tadi, bukankah Down Syndrome memiliki keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan? Lalu apa yang terjadi pada Ratzel?

Selama ini, belum pernah sekalipun aku mencari tahu tentang kelainan pada diri Ratzel. Rasa ingin tahuku semakin besar sekarang. Dengan gesit aku mengetikkan sesuatu di handphone dan tak lama muncul berbagai informasi mengenai Down Syndrome. Aku membuka salah satu website.

Down Syndrome adalah kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21. Diesebabkan karena kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.

Dengan serius aku menggeser layar.

Sebagai akibat dari kelainan ini, penderita memiliki IQ 25-50, sehingga penderita harus berkonsentrasi tinggi jika ingin melakukan sesuatu yang kita anggap “normal”.

Aku sedikit kaget ketika mengetahui fakta ini. Jika untuk berbicara dan makan saja Ratzel harus berkonsentrasi tinggi, apalagi untuk melukis?

Akibat utama dari kelainan ini yaitu kemunduran pada perkembangan organ penderita. Sistem gerak dan penglihatan menjadi sangat terlambat perkembangannya. Otak kiri tidak berkembang dengan baik tetapi otak kanan berkembang cukup baik. Sampai artikel ini dibuat, belum ditemukan metode pengobatan paling efektif. Orang yang berada disekitar penderita lah yang menjadi penentu perkembangannya, karena penderita harus mendapat dukungan dan informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan perkembangan fisik maupun mentalnya.

Bagaikan dihujam beribu jarum, aku merasa seperti ibu tiri dalam kisah upik abu. Aku adalah seorang kakak yang sangat jahat. Rachel Xhanaira Iskandar telah menjelma menjadi seseorang yang tidak ku kenal. Bahkan dia adalah diriku sendiri!

Hari ini harus ku abadikan. Betapa kejamnya seorang kakak yang menelantarkan adiknya selama 5 tahun. Mungkin perkataan Dimas tempo hari itu benar adanya, aku sedang dibutakan dengan hal-hal yang berlebihan mengenai kematian Bunda. Bunda meninggal karena tertabrak truk besar. Ketika itu Bunda, Ayah, Aku, dan Ratzel pergi berlibur ke pantai. Ayah sedang mengambil mobil di basement hotel. Sedangkan Bunda, aku, dan Ratzel menunggu di depan hotel.

Ketika itu Ratzel meminta dibelikan ice cream di seberang jalan. Pada awalnya Bunda merayu Ratzel dengan memberikan mainan barbie karena takut Ayah datang. Namun, Ratzel terus meminta sambil menangis meraung-raung. Bunda dengan hati besarnya yang penuh kasih sayang mengiyakan kemauan Ratzel sambil mencium hidungnya. Ratzel dititipkan padaku dan Bunda berjalan menyebrangi jalan menuju penjual ice cream. Kemudian truk dari arah kanan menghempas tubuh Bunda hingga dia terpental jauh. Bunda meninggal saat diperjalanan menuju Rumah Sakit.

Aku jadi merasa bersalah pada Dimas. Pokoknya secepatnya aku harus bicara dengannya. Aku mengetikkan pesan kepada Dimas, memintanya untuk bertemu denganku. Setelah itu, aku mengambil buku harianku dan mulai menulis.

25 Oktober 2015
21.10 WIB

Waktu itu hari Sabtu pagi. Bunda sibuk mendandani wajahku dan merapikan gaun merah marun yang ku kenakan. Sedangkan Ayah sedang berdiskusi dengan sang fotografer yang akan memotret kami bertiga. Ceritanya itu adalah acara foto keluarga terakhir sebelum Bunda melahirkan. Hari itu pula adalah saat-saat terakhirku menjadi “anak satu-satunya” di keluarga Iskandar. Aku sudah siap dan sangat bersemangat untuk menyambut adik kecilku. Setiap hari aku mengelus perut Bunda dan mengobrol bersama bayi yang ada di dalamnya.

Setelah berpose dengan berbagai macam gaya, Bunda ngidam untuk makan di restoran Jepang. Di tempat itulah kami mengobrol dan mengobrol. Membayangkan betapa bahagianya keluarga ini saat nanti adikku lahir. Alangkah bahagia diriku ketika mengetahui bahwa jenis kelamin adikku adalah perempuan. Bunda dan Ayah mengetahui melalui test USG. Mereka kemudian memintaku membuat nama untuk adikku nanti.

“Ratzel.” ucapku spontan.

“Kenapa kamu mau memberi nama itu, Chel?” tanya Bunda lembut sambil mengusap rambutku penuh kasih.

“Karena Ratzel itu adalah namaku. Aku ingin nama kami sama. Ratzel dan Ratzel.” jelasku. Ketika itu mulutku masih belum fasih menyebut namaku sendiri. Sehingga keinginanku memberi nama adik sama seperti namaku terdengar seperti...Ratzel.

Air mataku menetes saat menulis kembali kisah yang pernah aku alami 10 tahun yang lalu. Rasanya aku teramat sangat merindukan kebersamaan keluarga Iskandar yang hangat. Sambil menyeka air mata, aku kembali menulis.

Hari ini banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan. Tidak semua orang memiliki masa lalu yang baik. Melalui kejadian-kejadian menyakitkan biasanya manusia sadar akan siapa dirinya. Satu hal yang pasti bahwa manusia itu adalah tempatnya khilaf. Hanya saja, seberapa kuat dan sabar manusia dapat melewati masalah yang ada.

Menutup mata tidak akan membuatmu menjadi buta. Menutup telinga tidak akan membuatmu menjadi tuli. Tetapi menutup hati akan membuat hidupmu kelam. Maka bukalah pintu hatimu. Meski sulit tapi hal itu adalah tindakan yang benar.

Aku menutup buku harianku dan pergi tidur. Semoga apa yang aku dapat di hari yang panjang ini dapat membuat diriku semakin dewasa. Aamiin.

§ § §

Entah kenapa semenjak Ratzel sering melukis diriku, aku merasa hatiku menghangat tiap melihat mata bulat Ratzel. Terlebih sore ini, ketika pulang sekolah aku membuka pintu depan dan melihatnya berlari dari ruang keluarga sambil membawa sebuah kotak merah besar. Dengan susah payah dia mendekap kotaknya supaya tidak jatuh.

“Kak Naira.” sapanya. Ratzel semakin lancar menyebutkan namaku.

“Apa Zel?” balasku sedikit dingin. Aku masih gengsi untuk bersikap lebih hangat padanya. Setelah semua yang terjadi.

“Nih.” katanya sambil menyodorkan kotak besar tadi padaku.

“Buat gue?” tanyaku retoris.

Ratzel mengangguk semangat. Sambil menahan rasa gemas, aku menahan puncak kepalanya dengan tangan kiri dan mengambil kotak tadi dengan tangan kanan.

“Biasa aja kali ngangguknya.” ucapku sambil berjalan meninggalkan Ratzel menuju kamar.

Begitu menutup pintu kamar, aku langsung membuka kotak pemberian Ratzel. Ternyata isinya adalah lukisan portait diriku yang sedang memegang tangan seorang anak kecil. Latar utamanya adalah pantai. Anak kecil itu menunjuk sebuah bunga tulip yang tumbuh di pinggir pantai. Lukisan ini terlihat begitu indah dan nyata. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan bahwa Rarzel memiliki kelebihan yang luar biasa. Aku selalu memandangnya dalam perspektif yang salah.

Kemudian secara perlahan aku menyadari bahwa selama ini aku bersalah. Aku sudah banyak menyakiti banyak orang dengan sifatku yang keras dan selalu menutup hati. Aku sudah rela dan mau untuk berdamai dengan kenyataan. Mungkin Bunda diatas sana juga sedih melihat aku yang berkelakuan buruk disini. Usahaku dimulai dengan memperbaiki diriku dan memohon ampun kepada Allah. Sehabis itu baru aku bermaafan dengan orang-orang yang sudah kusakiti.

Lembaran baru hidupku, akan dimulai.

§ § §

“Nomor urut 67.” Suara Lia terdengar samar melalui pintu yang tidak ditutup rapat. Aku hanya tersenyum. Pintu ruanganku memang tidak bisa ditutup rapat sehingga pasien yang keluar masuk hanya menutup seadanya.

Setelah memeriksa pasien nomor urut 67, aku kembali tersenyum. Melihat pasien tadi aku jadi teringat Ratzel. Hari ini adalah pembukaan pameran lukisan di galeri pribadi miliknya.

“Dim lo jadi jemput ke Rumah Sakit kan?” tanyaku dalam telepon. Tanganku sibuk membereskan meja. Sekarang aku menjadi seorang dokter anak. Semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, aku jadi termotivasi untuk menolong pasien anak Down Syndrome. Ayah sudah meninggal saat aku sedang praktik di pedalaman. Kata Bi Asri dia meninggal karena serangan jantung.

“Oke deh gue tunggu di Lobby ya.” kataku setelah mendengar jawaban Dimas. Persahabatanku dengan Dimas semakin dekat. Kami bahkan membuat panti asuhan bersama..

40 menit berselang, aku dan Dimas sudah sampai di galeri Ratzel. Banyak sekali pengunjung yang datang. Semua orang tampak mengerumuni sebuah lukisan besar. Mungkin lukisan utama pameran kali ini. Aku dan Dimas mencoba memasuki kerumunan dan tercengang melihat lukisan itu.

Lukisan sebuah keluarga yang berlatar pantai di sore hari. Keluarga itu terdiri dari seorang Ayah, Ibu, dan dua anak perempuan. Semua tubuh anggota keluarga itu berdarah kecuali seorang gadis kecil yang memegang pisau dibalik tubuhnya.

Dimas menepuk pundakku dua kali. Kemudian semuanya berubah menjadi gelap.

No comments:

Post a Comment