Ciiiiiiit.
250 detik.
Motor sialan. Kok pake acara berhenti sih, masih
kuning juga lampunya. Dia gatau apa ya lampu merah disini itu lamanya kaya nunggu
Indonesia lepas dari jajahan Belanda! Ini matahari ga bersahabat banget lagi.
Tangan kananku sibuk memakaikan kaca mata hitam sedangkan tangan kiriku
berusaha menurunkan suhu AC mobil. Siapapun yang bilang kalo Bandung kota yang
sejuk, dia pasti ngomong itu 20 tahun yang lalu. Percaya deh sekarang disini
udah kaya di sauna. Padahal aku di dalam mobil dan ini masih jam 10 pagi.
200 detik.
Merasa bosan, aku merogoh tempat khusus menyimpan
handphone di dashboard. Ternyata
kosong. Handphoneku dimana ya? Kayanya terakhir aku charge di kamar deh. Begini ceritanya mah pasti ketinggalan di kamar. Sekarang aku menyesal karena tadi
terburu-buru berangkat. Aku memutar otak, hingga akhirnya aku menyalakan radio.
Berharap stasiun radio kesukaanku bisa menghibur kali ini.
150 detik.
“Selamat pagi kawula muda.” Suara khas penyiar
radio menyapaku
“Pagi.” jawabku malas. Padahal aku tahu ini
hanyalah interaksi satu arah.
“Gue punya permainan nih buat kalian. Permainannya
gampang banget. Nanti gue jelasin tentang permainnya setelah kalian ikutin
instruksi gue. Oke?”
Daripada bosen mending aku ikut aja.
“Yuk mulai! Sekarang kawula muda harus mikirin
sebuah angka dari 0-100.”
Meskipun malas tapi tetap saja aku memikirkan
sebuah angka.
“Sekarang coba kawula muda perhatikan sekitar kalian.”
Lagi-lagi aku mengikuti instruksinya.
100 detik
Aku melihat menembus kaca mobil kananku. Di dalam
angkutan kota ada seorang anak perempuan menggunakan kemeja putih dan rok merah
tua dengan logo sekolah dasar di dada kirinya. Aku sudah tidak memperhatikan
ocehan penyiar radio tadi. Di bahunya tersandang tas punggung berwarna pink dan
di dadanya tersilang tali botol minuman berwarna senada. Kelihatannya masih
kelas 4 atau 5 Sekolah Dasar. Sungguh menggemaskan melihat pipinya yang sedang
mengunyah sesuatu dan tangannya yang sibuk membuat origami. Wanita di sebelahnya
sibuk mengikat rambutnya yang ikal dan mengembang. Mungkin itu ibunya. Mereka
terlihat akrab sekali meskipun saat anaknya terus berceloteh wanita itu hanya
menyahut sesekali dengan anggukan. Namun rasa sayang itu terpancar jelas dari
matanya.
50 detik.
Atmosfer yang menyengat tidak membuatku mengalihkan
perhatian dari ibu dan anak itu. Ku perhatikan setiap gerakan dan interaksi
mereka. Aku jadi teringat masa kecilku. Alangkah rindunya aku dengan semua itu.
Pada sesusianya, aku pasti sebahagia anak itu, bahkan mungkin lebih. Mengingat
bunda begitu menyayangiku saat itu. Aku jadi teringat masa kecilku yang
menyenangkan.
Tiiiiiit. Tiiiiiit. Tiiiiit.
Suara klakson dari berbagai arah membuyarkan
lamunanku. Ternyata lampu sudah kembali hijau dan mobilku menghalangi kendaraan
lain. Sementara waktu yang tersisa tinggal 30 detik lagi. Langsung kupacu mobil
ini dengan kecepatan maksimal tanpa meminta maaf.
§ § §
“Pak Ujang cepet bukain pintu gerbangnya!” aku
berteriak kencang karena sudah hampir 5 menit tidak ada yang membukakan pintu
gerbang. Tak lama Ayah datang dan membukanya. Memangnya Pa Ujang kemana sih
sampai-sampai “tuan besar” sendiri yang mengerjakan pekerjaanya? Aku
memarkirkan mobil di garasi sementara Ayah menutup kembali pintu gerbang.
“Yah, emang Pak Ujang kemana? Kok Ayah yang bukain
pintu gerbang?” Saat turun dari mobil aku bertanya pada Ayah yang berjalan
melewatiku.
“Pak Ujang pulang ke Majalengka. Katanya anaknya
masuk rumah sakit.” Ayah menjawab singkat. Aku hanya menganggukan kepala tanda
mengerti.
Hari sudah hampir gelap saat aku mengambil alat
bermain softball di bagasi. Sudah cukup
latihannya untuk hari ini. Oleh-oleh latihan hari ini adalah paha kananku
terkena lemparan bola kencang dan aku merasa sangat kesakitan. Aku tergabung
dalam klub softball Kota Bandung,
Rusa Hitam. Setiap hari rabu dan sabtu aku rutin berlatih karena sebentar lagi
akan ada pertandingan antar klub softball
se-Jawa Barat, Refugees.
Begitu membuka pintu depan, aku langsung disambut
teriakan anak kecil yang sangat mengganggu.
“K..kak Nai..ra! K..kak Nai..ra!” celoteh Ratzel
sambil berlari menuju kepadaku dan memeluk pahaku begitu erat.
“Iiih lepasin! Minggir sana gue mau mandi.” ucapku
sambil mencoba melepaskan pelukannya yang sangat erat dan menahan rasa sakit di
pahaku.
“K..kak Nai..ra ma..na al..ppu..kkat
kke..su..kka..an Rat..zel?” tanyanya dengan mata berbinar penuh harap.
“Duh lupa gue. Males nginget-nginget hal ga penting
gini. Apalagi kalo itu berhubungan sama lo. Dasar aneh.” ucapku ketus dengan
tangan yang masih mencoba melepaskan pelukan Ratzel. Binar di matanya perlahan
berubah menjadi duka.
“Naira! Kamu ini apa-apaan? Bersikap baiklah pada
adikmu. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk bertindak seperti itu.” tegur
Ayah sambil melotot.
“Ayah emang ga pernah ngajarin, tapi bener, kan?
Ratzel itu aneh. Dia itu ga normal, Yah. Anak pembawa sial. Kenyataanya begitu
dan Naira ga bohong soal itu.” ucapku berapi-api.
Perlahan pelukan erat Ratzel mengendur dan lama
kelamaan terlepas. Ratzel berdiri lemah dengan wajah yang menunduk. Aku
benar-benar sudah tidak peduli dengan apa pun tentangnya. Hatiku sudah terlalu
keras untuk dilunakkan. Bahkan batu pun masih bisa mencekung jika terus-menerus
ditimpa air. Namun, hatiku bahkan sudah lebih keras dari batu.
Ayah terus mengoceh dan menggurui sementara Ratzel
masih tetap dalam posisinya. Aku berjalan cepat menuju kamarku di lantai atas.
Begini rasanya jika tidak punya Ibu, tidak ada yang membelamu jika dirimu
salah, tidak ada yang langsung memelukmu untuk menenangkan perasaanmu yang
kalut, bahkan tidak ada ucapan “semua akan baik-baik saja” yang biasa diucapkan
oleh seorang Ibu jika anaknya menangis terus-menerus.
Kakiku telah melewati anak tangga terakhir ketika
aku menoleh ke bawah dan melihat ayah sedang memeluk Ratzel sambil menepuk
punggungnya dengan lembut. Jika sudah begini, aku semakin merindukan Bunda.
§ § §
Cklek.
Setelah mandi, aku melakukan ritual malamku,
bersila di atas kasur dan memandangi foto bunda yang ku gantung tepat di atas
tempat tidur. Sekitar 15 menit aku memandang foto Bunda dan mulai bermain “Jika
Bunda masih ada” dalam pikiranku. Semakin sering aku memandang foto bunda,
semakin membuncah pula kerinduanku.
Aku mengambil buku jurnal di dalam kotak merah.
Kemudian aku mulai menulis:
24 Oktober 2015
19.37 WIB
Bunda, ini sudah
hampir 5 tahun semenjak kejadian itu. Apakah Bunda merindukanku? Aku sangat
rindu pada Bunda. Aku menyesal telah banyak mengecewakan Bunda selama ini.
Bunda tahu tidak? Semakin hari aku semakin benci pada Ratzel karena dia telah
menyebabkan Bunda meninggal. Melihat anak perempuan tadi pagi mungkin seumuran
dengan Ratzel. Namun aku tak ingin membandingkan bocah lucu dan menggemaskan
tadi dengan Ratzel.
Bunda, sekarang
semua temanku telah mengetahui status Ratzel sebagai adikku. Aku merasa malu
sekali karena memiliki adik yang aneh. Apakah aku salah Bun? Pasti Bunda akan
mengatakan bahwa ini adalah hal yang wajar, aku yakin itu Bun. Sudah 2 hari aku
tidak mengecek sosial media. Rasanya seperti ingin menghilang dari dunia karena
semua orang mulai mempertanyakan tentang Ratzel.
Bunda, ayah
lebih memperhatikan Ratzel dibanding aku sekarang. Kalau dulu selalu ada Bunda
yang memelukku jika dimarahi Ayah. Selalu ada Bunda yang menceritakan dongeng
sebelum tidur. Selalu ada Bunda yang mengikat rambutku dengan berbagai macam
gaya. Semuanya selalu Bunda.
Bunda, kapan
Bunda akan ada dimimpi ku? Apakah malam ini? Atau besok? Mampirlah dimimpiku
Bunda, karena aku ingin sekali melihat wajahmu secara langsung meskipun itu
didalam mimpi. Motivasi hidupku adalah engkau, Bunda. Bunda adalah idola dalam
hidupku, sekaligus orang yang paling aku sayang. Selamanya.
Setelah mengembalikan buku harian ke tempatnya
semula, aku mengambil handhone berlogo
apel yang setengah digigit diatas meja belajar. Jariku tergerak untuk mengecek
LINE messanger. Ada banyak notifikasi
yang masuk, sebagian besar menanyakan tentang kondisi adikku yang aneh. Yah,
aku tidak menyalahkan mereka yang berkata bahwa Ratzel itu aneh, karena memang
dia itu aneh. Hanya saja aku belum siap untuk menjawab dan menerima cercaan
yang akan datang.
Awalnya semua temanku memang tidak mengetahui bahwa
aku memiliki seorang adik pengidap Down
Syndrome. Ya benar, Ratzel Chaviera Iskandar adalah anak pengidap Down Syndrome. Down Syndrome adalah kelainan genetik bawaan sejak lahir yang
mengakibatkan penderitanya mengalami pertumbuhan yang sangat lambat. Hingga
detik ini, belum ditemukan metode pengobatan paling efektif.
Contohnya saja Ratzel. Diusianya yang sudah
menginjak 10 tahun beberapa bulan yang lalu, bicaranya masih belum lancar dan
perkembangan otak kirinya sangatlah buruk. Hanya saja Bunda dan Ayah dulu telah
sepakat untuk mendidik Ratzel sekuat tenaga agar dia bisa imbang dengan
kemampuan anak normal seusianya. Namun, semenjak Bunda meninggal, Ratzel mulai
mengalihkan perhatiannya pada menggambar. Sehingga kemampuan dia berbicara
masih sangat tidak lancar karena sudah jarang dilatih secara intens.
Tetapi semua usahaku untuk menutupi fakta tersebut
gagal karena Ratzel. 2 hari yang lalu, Ratzel bersama Ayah menjemputku saat jam
pulang sekolah. Ketika itu, aku sedang demonstrasi berbagai macam syle bola basket dihadapan seantero
siswa-siswi SMAN 3 Bandung. Kemudian Ratzel berlari menuju tengah lapangan dan
meloncat-loncat tidak jelas sambil menyebut “Kak Naira”. Jelas saja semua orang
tertawa mengejek dan malah bertepuk tangan. Ratzel semakin menjadi sebelum Ayah
berlari untuk menangkapnya dan membawanya ke mobil. Mau tidak mau aku mengikuti
mereka seolah-olah tidak tahu apa-apa. Tebal muka sekali diriku saat itu.
Dengan kesal aku mematikan handphone dan menyimpannya kembali diatas meja belajar. Begitu
lampu dimatikan, aku berbaring dan memandangi hiasan bintang yang menyala di
langit-langit kamarku. Hiasan itu dipasang sehari setelah Bunda mengetahui
bahwa dia mengandung Ratzel. Semua hal yang ada disekitarku memang selalu
berhubungan dengan Bunda. Itu yang menjadi alasan mengapa aku selalu merindukan
Bunda. Harapan sebelum kau jatuh ke alam mimpi adalah semoga aku bisa bertemu
Bunda di dalam mimpi kali ini. Aamiin.
§ § §
Hari masih gelap ketika aku bangun pagi ini. Aku
bersiap untuk melakukan rutinitas hari mingguku, senam. Dengan sigap aku
menyiapkan pakaian olahraga. Tak lupa sepatu olahraga dan MP3 beserta earphone untuk menemaniku berlari santai
menuju lapangan senam di depan kompleks. Setelah sholat subuh, aku berganti
pakaian dan memakai sepatu. Rambut panjangku dibuat sanggul agar tidak panas
nantinya.
Biasanya aku senam bersama Bi Asri. Bi Asri adalah
pembantu dirumahku yang sudah bekerja semenjak 5 tahun yang lalu. Umurnya masih
muda, sekitar 27 tahunan. Sikapnya yang polos dan baik membuat Ayah
mempekerjakannya pada usia 22 tahun. Selain baik, Bi Asri pintar memasak dan
tentunya mampu mengurus Ratzel.
Setelah 30 menit, aku turun kebawah hendak menuju
kamar Bi Asri yang terletak di halaman belakang. Tetapi baru saja aku menuruni
setengah jumlah anak tangga, sayup-sayup aku mendengar suara orang tertawa dari
arah ruang makan. Tumben udah rame, biasanya juga masih pada tidur kalo subuh
gini mah. Kakiku terus melangkah
hingga ruang makan.
“K..kwuaak Nawwoooi..wwwra!” sapa Ratzel penuh
semangat. Mulutnya penuh dengan makanan. Ratzel sedang mencorat-coret kertas
diatas meja sedangkan Bi Asri membawa semangkuk sereal ditangannya.
“Ngomong yang bener.” balasku ketus.
Ratzel mengunyah dengan cepat dan menelan
makanannya dengan paksa sehingga dia tersedak. Buru-buru Bi Asri mengambilkan
air putih dan meyodorkannya ke mulut Ratzel. Aku melipat kedua tanganku didada
dan mencoba menyalakan MP3. Sudahkah aku memberi tahu bahwa Ratzel belum bisa
makan dan minum sendiri?
“K..kak Nai..ra! Li..hat i..ni.” katanya semangat
setelah meminum air putih dari Bi Asri. Kedua tangan mungilnya menyodorkan
kertas corat-coret tadi kehadapanku.
“Ogah.” ucapku kesal. Ratzel mengernyitkan wajahnya
sambil menggeleng. Tanda dia tidak mengerti dengan kata yang baru saja aku
ucapkan.
“Bi Asri, mau senam gak?” tanyaku langsung pada
intinya.
“Emm..Mau sih neng, tapi Bibi harus ngejagain neng
Ratzel dulu sampe Bapak bangun.” jawabnya ragu.
Tuh kan, lagi-lagi semuanya karena Ratzel.
“Lo ngapain sih pake bangun subuh segala? Ganggu
hidup orang aja. Udah sana tidur lagi. Balik lo ke kamar.” perintahku otoriter.
Meski agak lama merespon, tapi ucapanku tadi sukses
membuat bibir mungil Ratzel mengkerut dan maju beberapa centimeter. Dia memaju
mundurkan bibirnya tanda kesal. Sedetik kemudian raut wajahnya kembali ceria.
Dia memandangiku dan Bi Asri. Terus bolak-balik seperti itu.
“Apaan sih? Gue bilang cepet balik ke kamar.” Aku
mengulang perintah dengan lebih keras.
“Si..ap K..kak Nai..ra!” ucapnya semangat sambil
bangkit dari kursi meja makan. Kertas corat-coret beserta alat gambarnya dia
tinggalkan di atas meja makan.
“Eh Eh, neng Ratzel ini sarapannya belum habis
neng!” panggil Bi Asri mencoba menahan Ratzel supaya menghabiskan serealnya
terlebih dahulu.
Ratzel hanya membalikkan badan dan menggeleng
sambil nyengir. Kemudian terdengar suara pintu ditutup dengan keras, pertanda
Ratzel sudah masuk kedalam kamar. Aku membalikkan badan menuju Bi Asri.
“Bi, Let’s Go!”
ajakku tak kalah semangat dengan Ratzel. Emang cuma dia yang bisa semangat di
rumah ini?
--
“Rachel Xhanaira Iskandar!”
Ketika akan membuka pintu gerbang, aku dikagetkan
dengan suara orang yang memanggilku. Jarang sekali ada orang yang memanggil
namaku dengan lengkap. Aku menolehkan kepala dengan cepat. Siapa yang
memanggilku? Mengapa tidak ada orang? Sambil mengangkat bahu, aku berbalik
untuk membuka pintu gerbang.
Pluk.
Duh siapa sih yang ngelempar biji rambutan? Seolah
mendapat sinyal, dengan cepat aku menengokkan kepalaku ke belakang, ke arah
pohon rambutan lebat yang ada diseberang rumahku. Kemudian aku menemukan pelaku
yang melempar biji rambutan ke kepalaku. Dia adalah....Dimas. Yaa kalau tidak
salah mengenali, karena sudah hampir 6 tahun aku tidak bertemu dengannya.
Dimas melompat turun dan menghampiriku sambil
berlari. Dia terlihat tampan dan terurus. Tubuhnya sedikit gempal dengan
otot-otot yang menonjol. Kentara sekali bahwa dia sering nge-gym. Meskipun berubah 180o tapi
ada satu hal yang membuatku mengenalinya dengan cepat, yaitu sifatnya yang
sangat “Dimas”.
“Hei Chel! Apa kabar lo?” tanyanya basa-basi. Dia
tampak memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Hanya Dimas, yang memanggil
diriku Chel. Kuchel. Hahaha
“Cape gue, abis senam di depan kompleks.” jawabku
sambil membuka pintu gerbang. “Yuk masuk!” perintahku setelah berhasil membuka
pintu gerbang.
Sambil berjalan masuk, Dimas masih tetap mengoceh.
“Sumpah lo sekarang mainnya sama Ibu-Ibu komplek
Chel?” tanyanya sambil tertawa.
Aku hanya mendengus geli. Kami terus berjalan
menuju taman air mancur yang terletak di halaman depan rumahku. Duduk bersila
diatas rumput menjadi pilihan kami kali ini.
“Ya ampun! Ditinggal 6 taun aja lo udah berubah
jalur gitu ya Chel. Ckck. Malu gue.” lanjutnya mulai serius.
“Apaan sih lo Dim? Emangnya tadi pas kesini lo ga liat
apa yang senam tuh bukan cuma Ibu-Ibu doang, tapi banyak yang seumuran gue juga
tau. 6 taun lo pergi makin so tau aja ya lo Dim. Hahaha.” jelasku panjang
lebar.
“Eh tapi beneran banyak yang seumuran lo?
Cantik-cantik dong? Suka gue suka. Hahaha.” balas Dimas.
“Yakin lo suka sama yang cantik? Bukannya sama yang
ganteng? Hahaha.” Lalu kami berdua tertawa lepas.
“Lo sekarang kelas 3 SMA kan? Mau kemana lo abis
lulus?” tanyanya setelah tawa kami mereda.
“Gue gatau Dim. Ga pernah mikirin. Kanyanya gue mau
jadi atlet softball atau mungkin kuliah.” jawabku. Dimas terlihat tidak puas
mendengar jawabanku.
“Lo harus tentuin dari sekarang lo mau kemana. Lo
masih suka dapet juara 1 kan? Kalo gitu mah
lo tinggal tunjuk aja mau kemana.” ucap Dimas yang hanya kubalas dengan
tersenyum tipis.
Kemudian lama-kelamaan yang terdengar hanyalah
suara air mancur yang membosankan.
“Dim, kok lo tiba-tiba balik ke Bandung? Bukannya
lo lagi sibuk-sibuknya kuliah ya?” tanyaku memecah kesunyian.
“Tuan putri lagi butuh kasih sayang. Masa Superman
diem aja di UI.” jawabnya asal sambil membangga-banggakan diri seolah dia
memang seorang Superman.
“Eh dimana-mana pasangannya Tuan putri itu ya
pangeran kodok. Haha.” candaku.
“Yah, 6 taun ditinggal Superman, ini Tuan putri
makin jayus aja. Haha.” katanya
santai sambil mengacak rambutku.
“Sialan lo Dim.” Aku memukul lengannya agak
kencang.
“Buset dah, tenaga lo udah kaya kuli bangunan
Chel.” Kata Dimas dengan raut wajah sedikit kaget.
“Makanya jangan macem-macem lo sama kuli bangunan.”
balasku ketus.
Jangan heran kalau aku dan Dimas bisa langsung
akrab kembali setelah 6 tahun tidak bertemu. Kami selalu berhubungan lewat Skype atau LINE messenger. Orang tuaku dan orang tua Dimas bersahabat sejak SMA.
Dulu Dimas adalah tetanggaku yang rumahnya sekarang menjadi kebun rambutan. Aku
sudah menganggap Dimas sebagai seorang kakak. Saat umurku 11 tahun, Dimas dan
keluarganya pindah ke Jakarta karena Om Adi, Ayahnya, terpilih sebagai anggota
DPR. Umur Dimas seumur denganku tetapi ketika SMP, dia mengikuti program kelas
akselerasi. Sekarang Dia sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
“Lo lagi banyak pikiran ya? Cerita dong. Udah lama
neng ga cerita sama abang. Haha.” Pernyataannya membuat aku muak.
Aku hanya menggeleng pelan. Aku memandangi kedua
kakiku yang saling bermain ditanah.
“Gimana kabar Ratzel, Chel?” tanyanya langsung pada
sasaran.
Kemudian aku menceritakan cerita dari awal Bunda
meninggal hingga sekarang. Sedetail dan serinci mungkin, tanpa ada yang
terlewat satu pun. Selama bercerita, Dimas tidak pernah menyela sekalipun.
Setelah berhenti berbicara, aku merasa seakan beban yang selama ini menghimpit
diriku diangkat seketika. Aku memperhatikan ikan koi peliharaan Ayah yang
sedang memangap-mangapkan mulutnya di permukaan. Aku merasa lega sekali. Lama
setelah aku selesai berbicara, Dimas baru membuka suara.
“Jadi, apa lo sayang sama Ratzel?” tanya Dimas.
“Hm?” aku bergumam. Tidak fokus dengan apa yang
ditanyakan Dimas. Aku menengok melihat wajahnya.
“Rachel Xhanaira Iskandar, apa lo sayang sama adik
lo, Ratzel Chaviera Iskandar?” ulangnya serius. Matanya menatap lekat tepat ke
bola mataku.
“Apaan sih kok lo nanya gitu?” emosiku sedikit
terpancing dengan pertanyaannya yang sensitif buatku.
“Kok lo marah sih? Gue kan cuma nanya hal simpel
yang bahkan bisa lo jawab sambil tidur.” jelasnya.
“Gue ga suka lo nanya hal itu.” ucapku sambil
membuang muka.
“Lho kenapa? Bukannya lo sayang sama Ratzel? Dia
itu adik yang lo tunggu-tunggu kelahirannya, kan? Terus kenapa lo jadi marah
pas gue tanya ini. Atau lo emang ga pernah sayang sama dia? Kasian dia Chel. Kematian
nyokap lo itu bukan semata-mata karena Ratzel, tapi emang udah takdir Allah
Chel. Pikiran lo itu lagi dibutain tentang kenyataan ini. Gue tau dia emang
lain dari yang lain, dan dari yang gue inget dulu, lo ga pernah bermasalah
dengan kondisi Ratzel yang Down Syndrome.
Ada apa sama lo yang sekarang Chel? Mana Rachel yang selama ini gue kenal?”
Penjelasan Dimas hanya membuat amarahku semakin memuncak.
“Dim lo tau ga sih? Tadi gue seneng banget pas
ketemu lo lagi. Gue kira ini emang udah saatnya gue punya orang yang bakal
ngelindungin gue lagi karena gue tau kalo Ayah udah sepenuhnya milik Ratzel.
Gue cerita panjang lebar gini ke lo itu biar lo dukung gue, bilang ke gue kalo selama
ini gue itu bener dan lo berada di pihak gue. Tapi apa sekarang? Gue nyesel pernah
ketemu lagi sama lo, Dim.” ucapku panjang lebar. Aku bangkit berdiri dan
membersihkan bagian belakang celanaku. Tanganku mengepal keras. Aku berbalik
menghadap Dimas.
“Kenapa sih semua orang lebih memihak Ratzel
daripada gue? Gue disini juga tersakiti. Jangan mentang-mentang karena dia
aneh, dia dapet perlakuan spesial dari semua orang. Gue cape Dim. Gue cape.” Suaraku memelan saat
mengatakan ini. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Sebelum air mata ini
tumpah, aku berjalan meninggalkan Dimas menuju pintu depan.
Baru beberapa langkah aku berjalan, suara Dimas
membuatku berhenti sesaat.
“Gue kecewa sama lo Chel. Lo adalah orang yang ga
punya hati nurani. Coba deh lo bayangin kalo lo ada di posisi Ratzel. Gue cuma
minta itu dari lo, dan gue titip salam buat Ratzel. Semoga dia makin kuat
ngadepin kakanya yang sekeras batu. Gue duluan.” balasnya tak kalah
menyakitkan. Kemudian air mataku menetes satu persatu. Terdengar suara pintu
gerbang yang dibuka dan ditutup. Aku berlari menuju kamar dan mengunci diri di
dalam. Rasanya aku ingin mati saja.
§ § §
Perutku meraung minta diisi. Aku baru ingat kalau sejak
subuh perutku belum diisi apapun. Jam sudah menunjukan pukul 03.00 sore saat
aku bangun tidur. Seharian ini aku menghabiskan waktuku dengan menangis dan
men-drible bola basket ke tembok
kamar. Mencoba menyalurkan perasaan yang campur aduk lewat bermain basket. Mungkin
aku ketiduran saking lelahnya. Tubuhku terasa lengket oleh keringat. Kakiku
melangkah menuju kamar mandi, berniat membersihkan diri.
Setelah berganti pakaian, aku berjalan menuju ruang
makan. Mencari apa saja yang bisa dimakan. Akhirnya aku menemukan lasagna di
dalam kulkas dan memanaskannya di microwave.
Setelah 5 menit, aku mengambil sendok kemudian membawa lasagna tersebut keruang
tengah. Sambil memakan lasagna, aku menyalakan TV mencoba mengusir rasa sepi.
Selesai makan, aku mengambil jus jeruk dari kulkas
dan kembali menonton TV. Merasa bosan dengan tayangan infotaiment, aku mengganti-ganti channel secara acak. Jariku berhenti memencet remote ketika di
layar TV menampilkan acara berita sore. Headline nya adalah: seorang remaja
penderita Down Syndrome yang sukses
menjadi seorang fashion illustrator.
Tiba-tiba saja perkataan Dimas tadi pagi kembali terngiang dipikiranku.
“...Lo adalah
orang yang ga punya hati nurani. Coba deh lo bayangin kalo lo ada di posisi
Ratzel...”
Arrrgh aku semakin kesal jika mengingat Dimas. Ku
perhatikan layar TV yang terus membanggakan remaja Down Syndrome tadi. Jika dibandingkan dengan Ratzel, penampilan
fisiknya begitu.....aneh. Bentuk kepalanya yang kecil, sela hidung yang datar,
mulut kecil dengan lidah yang sedikit menjulur keluar, dan matanya yang kecil.
Mungkin ini karena dia mengidap Down
Syndrome.
Tetapi walaupun Ratzel memiliki bentuk kepala yang
kecil dan hidungnya yang sedikit datar, secara keseluruhan dia terlihat lucu
dan sekilas tidak terlihat bahwa dia seorang anak yang mengidap kelainan Down Syndrome. Jika Ratzel dan remaja
tadi memiliki kelainan yang sama, mengapa keduanya nampak berbeda? Aku jadi
semakin penasaran dengan Down Syndrome.
§ § §
Sepulang sekolah sore ini kembali ke rutinitas jika
aku membuka pintu depan rumah, keadaan dalam rumah sepi. Mata bulat Ratzel
sudah menanti kehadiranku.
"Apaan lagi sih? Minggir gue cape." ucapku
ketus.
Tanpa bicara, Ratzel menunjuk kamarnya sambil menarik
tangan kananku untuk mengikuti langkahnya.
"Eh lepasin tangan gue. Lo ngerti ga sih? Gue
cape Ratzel, gue cape!" ucapku sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan
Ratzel di tangan kananku.
Semakin lama aku melawan, dia semakin keras menarik
tanganku. Aku bahkan tidak menyangka bahwa dia memiliki tenaga sekuat ini.
"Minggiiiiir!" teriakku sambil menyentakkan
tangan nya dengan keras. Tiba-tiba aku merasa kosong seketika.
Ratzel. Tubuhnya melayang menabrak kuda-kudaan yang
terbuat dari kayu jati dengan keras hingga terdengar bunyi gedebuk kencang.
Dulu Bunda membeli kuda-kudaan itu saat dia mengandung Ratzel. Aku yang meminta
Bunda membeli mainan itu supaya nanti bisa dimainkan bersama adik yang sedang
kusambut kelahirannya dengan suka cita.
Cairan merah segar mengalir dilantai marmer ruang tamu
rumahku. Ratzel menutup matanya sempurna. Otakku sedang terserang brain
freeze saat melihat pemandangan mengerikan ini. Segera saja aku berlari
menuju pos satpam dengan tergesa-gesa.
"PakmUjang! Ratzel pak, Ratzel!" ucapku
masih linglung.
"Non Ratzel kenapa Neng?" tanya Pak Ujang keheranan.
"Tadi bapak seperti mendengar bunyi keras dari
dal..."
"Itu Ratzel, Pak. Dia........meninggal."
potongku cepat.
Setelah itu pandanganku mengabur dan kemudian dunia
disekitarku berubah menjadi gelap.
§ § §
Cahaya terang menyilaukan mataku. Perlahan tapi pasti,
aku membiasakan pandangan dengan cahaya ini. Dinding disekitarku berwarna sama,
putih. Tirai jendela disebelah kanan tubuhku disingkapkan sehingga cahaya
matahari masuk sempurna ke dalam ruangan. Aku melihat wanita yang mengenakan mukena
berwarna putih duduk membelakangi diriku. Tangannya memutar tasbih coklat
sambil berbisik. Mungkin sedang berdzikir.
Aku berdeham pelan. Wanita itu menerima sinyalku. Dia
berbalik cepat. Matanya bengkak. Kentara sekali dia habis menangis.
"Neng Naira udah sadar? Alhamdulillah."
katanya sambil tersenyum lega. Ternyata Bi Asri.
"Naira mau minum, Bi." pintaku lemah.
Dengan sigap, Bi Asri mengambil gelas yang tersedia
diatas nakas. Dia menyodorkan gelas itu padaku. Aku menerimanya sambil
mendudukan tubuhku. Kuteguk habis air dalam gelas hingga tak bersisa. Gelas
kosongnya ku kembalikan pada Bi Asri.
Tak sengaja aku memandang jam di dinding. Jarumnya
menunjukan pukul 09.00 pagi. Tiba-tiba aku menutup mata sambil memijat
pelipisku.
"Pusing, Neng? Bibi panggilin suster ya."
tanyanya khawatir.
Aku menggeleng tidak setuju.
"Naira mau...Ah enggak enggak. Mmm Ratzel...gimana,
Bi?" tanyaku ragu.
Aku menutup sebagian wajahku dengan kedua telapak
tangan. Tak sanggup mendengar jawabannya. Seakan jawaban Bi Asri begitu
mengerikan buatku.
"Non Rat.....kring-kring" ucapan Bi
Asri terpotong oleh deringan handphone jadulnya. Dia menyipitkan mata
dan menjauhkan tangannya untuk melihat siapa yang menelepon.
"Sebentar ya Neng," katanya sambil
mengangkat telepon dan berjalan menuju pojok ruangan.
Memangnya sepenting apa telepon itu dibandingkan
pertanyaanku? Dasar.
"Iya Pak iya nanti saya belikan...Kebetulan di
seberang Rumah Sakit ada toko bunga...Ini neng Naira udah siuman, Pak." samar-samar aku mendengar
ucapan Bi Asri. Kalau dari informasi yang aku dengar, orang yang menelepon
adalah Ayahku.
Tapi bunga untuk apa? Mungkinkah...pemakaman Ratzel?
Bi Asri kembali berjalan menuju tempatku. Jantungku
semakin berdebar bagaikan seorang teroris yang menanti detik-detik eksekusi
mati dirinya. Pikiranku semakin liar, kembali terbayang mata Ratzel yang
menutup dan darah yang menggenang di lantai. Aku menggeleng keras, mencoba
menjauhkan bayangan-bayangan buruk tadi yang sialnya tidak mau lenyap dari
pikiranku.
"Tadi nanya apa neng? Maaf nya neng bibi teh
muda-muda gini udah gampang lupa." katanya sambil nyengir santai.
Semakin kesal aku dengan Bi Asri. Apa dia tidak
menganggap kematian Ratzel sebagai sebuah kesedihan? Memangnya ini lucu? Lihat
saja akan aku laporkan pada Ayah supaya Bi Asri dipecat. Eh tapi memangnya Ayah
akan mendengarkan omonganku?
“Bi Asri! Aku kesel deh. Yang tadi nelfon itu Ayah,
kan? Ratzel udah mau dimakamin, Bi? Dia bakal dimakamin disebelah makam Bunda?
Aku mau ikut ngeliat, Bi. Aku yang nyebabin dia meninggal.” Aku menyerocos
tanpa henti sambil mencoba melepaskan selang infus.
Bi Asri memperlihatkan raut wajah kaget dan panik.
“Eh eh Neng Naira mau ngapain? Siapa yang meninggal
Neng? Neng Ratzel ada di kamar sebelah lagi ngegambar. Dia malah udah sadar
dari tadi malem. Neng Naira juga dicariin terus sama Neng Ratzel. Dia pengen
ngegambar bunga tulip katanya, makanya Bibi disuruh Bapak beli bunga ke depan.”
jelas Bi Asri. Ternyata Ratzel tidak meninggal. Aku jadi menyesal telah
mengkhawatirkan kondisi Ratzel berlebihan. Aku mendengus sambil merapikan
poniku. Merasa gengsi.
“Ya udah Bibi sana beli bunga. Aku baik-baik aja
ko. Terus tolong panggilin suster, aku mau mandi dan pulang.” pintaku pada Bi
Asri.
“Neng Naira yakin ga mau ketemu dulu sama Neng
Ratzel?” kata Bi Asri sambil menyeringai.
“Ga mauuuuuuuuu!!!” teriakku sambil menutup kepala
dengan bantal rumah sakit. Bi Asri terkikik sambil berjalan keluar kamar. Naira
naira...memalukan saja.
§ § §
Tepat 1 minggu setelah kejadian “Ratzel meninggal”.
Bi Asri ternyata menceritakan kepada Ratzel bahwa aku sangat panik saat
menanyakan kondisinya. Tentu saja Ratzel kegirangan dan merasa bahwa aku
perhatian padanya. Menyebalkan.
Sekarang aku sedang kelaparan sekali. Seharian ini
aku berlatih softball dengan keras,
mengingat pertandingan softball
se-Jawa Barat akan dilaksanakan 3 minggu lagi. Akibatnya aku lupa untuk makan
siang dan cacing di dalam perutku sudah meminta jatahnya.
Aku menelepon restoran cepat saji untuk memesan
makanan. Menurutku hal ini cukup simple
dan cepat. 30 menit berselang, pengantar makanan datang dan aku memilih menghabiskan
makan di ruang tengah.
Pranggggggg.
Saat akan bangkit berdiri, aku memecahkan gelas
yang berada dipangkuanku. Segera saja aku memanggil Bi Asri.
“Bi Asri! Bi Asri!” teriakku.
Aku baru menyadari satu hal. Rumah ini terasa
sangat sepi. Biasanya setiap saat ada saja suara Ratzel yang begitu mengganggu.
Tetapi kali ini, tidak. Orang-orang pada kemana ya? Jangan-jangan aku ditinggal
sendirian di rumah. Aku membereskan pecahan gelas dengan sangat hati-hati.
Setelah membuang pecahannya ke tempat sampah, aku
berjalan mengelilingi rumah besar ini. Sudah lama rasanya tidak menjelajahi
tempat penuh kenangan ini. Dulu saat aku berumur 10 tahun, Ratzel berumur 3
tahun, dan Bunda masih hidup, kami bertiga sering bermain petak umpet. Bunda
dan Ratzel adalah satu tim, karena Ratzel belum bisa berjalan saat itu. Lemari
di bawah tangga adalah tempat andalanku untuk bersembunyi. Lemari itu terletak
di dekat kamar Ratzel. Aku berjalan menuju lemari bawah tangga, hanya sekedar
ingin tahu bagaimana kondisinya sekarang.
Pintu kamar Ratzel sedikit terbuka. Dengan rasa
penasaranku yang tinggi, aku melongokkan kepala kedalam kamarnya. Ternyata
Ratzel sedang tidur dikasur bersama....Bi Asri! Padahal tadi aku memanggilnya
dengan kencang, kok ga kebangun sih? Dasar Bi Asri.
Dengan ragu aku membuka pintu sehingga tubuhku
dapat masuk ke dalam kamar. Sudah hampir 7 tahun aku tidak pernah menginjakkan
kaki diruangan serba biru tosca ini. Ketika mengedarkan pandangan di dalam
ruangan ini, aku dikagetkan dengan banyaknya kertas dan kanvas berwarna-warni dalam
ruangan ini. Bukan hanya itu, tapi objek gambarannya adalah.....aku. Rachel Xhanaira
Iskandar.
§ § §
Aku masih terkejut dengan lukisan-lukisan di dalam kamar
Ratzel. Saat ini sudah pukul 7 malam dan aku baru pulang dari restoran fast food untuk makan malam. Otakku
terus bertanya-tanya dari tadi, bukankah Down
Syndrome memiliki keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan? Lalu apa yang
terjadi pada Ratzel?
Selama ini, belum pernah sekalipun aku mencari tahu
tentang kelainan pada diri Ratzel. Rasa ingin tahuku semakin besar sekarang.
Dengan gesit aku mengetikkan sesuatu di handphone
dan tak lama muncul berbagai informasi mengenai Down Syndrome. Aku membuka salah satu website.
Down Syndrome
adalah kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21. Diesebabkan karena
kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi
pembelahan.
Dengan serius aku menggeser layar.
Sebagai akibat
dari kelainan ini, penderita memiliki IQ 25-50, sehingga penderita harus
berkonsentrasi tinggi jika ingin melakukan sesuatu yang kita anggap “normal”.
Aku sedikit kaget ketika mengetahui fakta ini. Jika
untuk berbicara dan makan saja Ratzel harus berkonsentrasi tinggi, apalagi
untuk melukis?
Akibat utama
dari kelainan ini yaitu kemunduran pada perkembangan organ penderita. Sistem
gerak dan penglihatan menjadi sangat terlambat perkembangannya. Otak kiri tidak
berkembang dengan baik tetapi otak kanan berkembang cukup baik. Sampai artikel
ini dibuat, belum ditemukan metode pengobatan paling efektif. Orang yang berada
disekitar penderita lah yang menjadi penentu perkembangannya, karena penderita
harus mendapat dukungan dan informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan
sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan perkembangan fisik maupun
mentalnya.
Bagaikan dihujam beribu jarum, aku merasa seperti
ibu tiri dalam kisah upik abu. Aku adalah seorang kakak yang sangat jahat.
Rachel Xhanaira Iskandar telah menjelma menjadi seseorang yang tidak ku kenal.
Bahkan dia adalah diriku sendiri!
Hari ini harus ku abadikan. Betapa kejamnya seorang
kakak yang menelantarkan adiknya selama 5 tahun. Mungkin perkataan Dimas tempo
hari itu benar adanya, aku sedang dibutakan dengan hal-hal yang berlebihan
mengenai kematian Bunda. Bunda meninggal karena tertabrak truk besar. Ketika
itu Bunda, Ayah, Aku, dan Ratzel pergi berlibur ke pantai. Ayah sedang
mengambil mobil di basement hotel. Sedangkan Bunda, aku, dan Ratzel menunggu di
depan hotel.
Ketika itu Ratzel meminta dibelikan ice cream di
seberang jalan. Pada awalnya Bunda merayu Ratzel dengan memberikan mainan
barbie karena takut Ayah datang. Namun, Ratzel terus meminta sambil menangis
meraung-raung. Bunda dengan hati besarnya yang penuh kasih sayang mengiyakan
kemauan Ratzel sambil mencium hidungnya. Ratzel dititipkan padaku dan Bunda berjalan
menyebrangi jalan menuju penjual ice cream. Kemudian truk dari arah kanan menghempas
tubuh Bunda hingga dia terpental jauh. Bunda meninggal saat diperjalanan menuju
Rumah Sakit.
Aku jadi merasa bersalah pada Dimas. Pokoknya
secepatnya aku harus bicara dengannya. Aku mengetikkan pesan kepada Dimas,
memintanya untuk bertemu denganku. Setelah itu, aku mengambil buku harianku dan
mulai menulis.
25 Oktober 2015
21.10 WIB
Waktu itu hari
Sabtu pagi. Bunda sibuk mendandani wajahku dan merapikan gaun merah marun yang
ku kenakan. Sedangkan Ayah sedang berdiskusi dengan sang fotografer yang akan
memotret kami bertiga. Ceritanya itu adalah acara foto keluarga terakhir
sebelum Bunda melahirkan. Hari itu pula adalah saat-saat terakhirku menjadi
“anak satu-satunya” di keluarga Iskandar. Aku sudah siap dan sangat bersemangat
untuk menyambut adik kecilku. Setiap hari aku mengelus perut Bunda dan
mengobrol bersama bayi yang ada di dalamnya.
Setelah berpose
dengan berbagai macam gaya, Bunda ngidam untuk makan di restoran Jepang. Di
tempat itulah kami mengobrol dan mengobrol. Membayangkan betapa bahagianya
keluarga ini saat nanti adikku lahir. Alangkah bahagia diriku ketika mengetahui
bahwa jenis kelamin adikku adalah perempuan. Bunda dan Ayah mengetahui melalui test USG. Mereka kemudian
memintaku membuat nama untuk adikku nanti.
“Ratzel.” ucapku
spontan.
“Kenapa kamu mau
memberi nama itu, Chel?” tanya Bunda lembut sambil mengusap rambutku penuh
kasih.
“Karena Ratzel
itu adalah namaku. Aku ingin nama kami sama. Ratzel dan Ratzel.” jelasku.
Ketika itu mulutku masih belum fasih menyebut namaku sendiri. Sehingga
keinginanku memberi nama adik sama seperti namaku terdengar seperti...Ratzel.
Air mataku menetes saat menulis kembali kisah yang
pernah aku alami 10 tahun yang lalu. Rasanya aku teramat sangat merindukan kebersamaan
keluarga Iskandar yang hangat. Sambil menyeka air mata, aku kembali menulis.
Hari ini banyak pelajaran
hidup yang aku dapatkan. Tidak semua orang memiliki masa lalu yang baik.
Melalui kejadian-kejadian menyakitkan biasanya manusia sadar akan siapa
dirinya. Satu hal yang pasti bahwa manusia itu adalah tempatnya khilaf. Hanya
saja, seberapa kuat dan sabar manusia dapat melewati masalah yang ada.
Menutup mata
tidak akan membuatmu menjadi buta. Menutup telinga tidak akan membuatmu menjadi
tuli. Tetapi menutup hati akan membuat hidupmu kelam. Maka bukalah pintu
hatimu. Meski sulit tapi hal itu adalah tindakan yang benar.
Aku menutup buku harianku dan pergi tidur. Semoga
apa yang aku dapat di hari yang panjang ini dapat membuat diriku semakin
dewasa. Aamiin.
§ § §
Entah kenapa semenjak Ratzel sering melukis diriku,
aku merasa hatiku menghangat tiap melihat mata bulat Ratzel. Terlebih sore ini,
ketika pulang sekolah aku membuka pintu depan dan melihatnya berlari dari ruang
keluarga sambil membawa sebuah kotak merah besar. Dengan susah payah dia
mendekap kotaknya supaya tidak jatuh.
“Kak Naira.” sapanya. Ratzel semakin lancar
menyebutkan namaku.
“Apa Zel?” balasku sedikit dingin. Aku masih gengsi
untuk bersikap lebih hangat padanya. Setelah semua yang terjadi.
“Nih.” katanya sambil menyodorkan kotak besar tadi
padaku.
“Buat gue?” tanyaku retoris.
Ratzel mengangguk semangat. Sambil menahan rasa
gemas, aku menahan puncak kepalanya dengan tangan kiri dan mengambil kotak tadi
dengan tangan kanan.
“Biasa aja kali ngangguknya.” ucapku sambil
berjalan meninggalkan Ratzel menuju kamar.
Begitu menutup pintu kamar, aku langsung membuka
kotak pemberian Ratzel. Ternyata isinya adalah lukisan portait diriku yang
sedang memegang tangan seorang anak kecil. Latar utamanya adalah pantai. Anak
kecil itu menunjuk sebuah bunga tulip yang tumbuh di pinggir pantai. Lukisan
ini terlihat begitu indah dan nyata. Selama ini aku tidak pernah memperhatikan
bahwa Rarzel memiliki kelebihan yang luar biasa. Aku selalu memandangnya dalam
perspektif yang salah.
Kemudian secara perlahan aku menyadari bahwa selama
ini aku bersalah. Aku sudah banyak menyakiti banyak orang dengan sifatku yang
keras dan selalu menutup hati. Aku sudah rela dan mau untuk berdamai dengan
kenyataan. Mungkin Bunda diatas sana juga sedih melihat aku yang berkelakuan
buruk disini. Usahaku dimulai dengan memperbaiki diriku dan memohon ampun
kepada Allah. Sehabis itu baru aku bermaafan dengan orang-orang yang sudah
kusakiti.
Lembaran baru hidupku, akan dimulai.
§ § §
“Nomor urut 67.” Suara Lia terdengar samar melalui
pintu yang tidak ditutup rapat. Aku hanya tersenyum. Pintu ruanganku memang
tidak bisa ditutup rapat sehingga pasien yang keluar masuk hanya menutup
seadanya.
Setelah memeriksa pasien nomor urut 67, aku kembali
tersenyum. Melihat pasien tadi aku jadi teringat Ratzel. Hari ini adalah
pembukaan pameran lukisan di galeri pribadi miliknya.
“Dim lo jadi jemput ke Rumah Sakit kan?” tanyaku
dalam telepon. Tanganku sibuk membereskan meja. Sekarang aku menjadi seorang
dokter anak. Semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, aku jadi termotivasi untuk
menolong pasien anak Down Syndrome.
Ayah sudah meninggal saat aku sedang praktik di pedalaman. Kata Bi Asri dia
meninggal karena serangan jantung.
“Oke deh gue tunggu di Lobby ya.” kataku setelah
mendengar jawaban Dimas. Persahabatanku dengan Dimas semakin dekat. Kami bahkan
membuat panti asuhan bersama..
40 menit berselang, aku dan Dimas sudah sampai di
galeri Ratzel. Banyak sekali pengunjung yang datang. Semua orang tampak
mengerumuni sebuah lukisan besar. Mungkin lukisan utama pameran kali ini. Aku
dan Dimas mencoba memasuki kerumunan dan tercengang melihat lukisan itu.
Lukisan sebuah keluarga yang berlatar pantai di
sore hari. Keluarga itu terdiri dari seorang Ayah, Ibu, dan dua anak perempuan.
Semua tubuh anggota keluarga itu berdarah kecuali seorang gadis kecil yang
memegang pisau dibalik tubuhnya.
Dimas menepuk pundakku dua kali. Kemudian semuanya
berubah menjadi gelap.
No comments:
Post a Comment